Logo

Logo

Monday, March 19, 2007

Paradise Lost - Buku Kedua

Paradise Lost - Terjemahan oleh Adot

BUKU 2
KISAH
Sidang dimulai, Setan mempersoalkan apakah suatu Perang dilancarkan lagi untuk merebut kembali Sorga: beberapa menasehatkan hal tersebut, yang lainnya menolak: Ajuan ketiga lebih disenangi, yang telah disebutkan sebelumnya oleh Setan, untuk mencari kebenaran mengenai Nubuat atau Cerita Turun Temurun di Sorga mengenai dunia lain, dan jenis mahluk lain yang setara atau yang tidak jauh lebih rendah dari mereka sendiri, yang kira kira pada saat tersebut diciptakan: Keraguan mereka mengenai siapa yang akan dikirim dalam pencarian yang sulit ini: Setan penghulu mereka menjalani sendiri perjalanan tersebut, dihormati dan disorak soraikan. Sidang tersebut berakhir demikian, sisanya pergi kesana kemari atau mengerjakan hal ini dan itu, sebagaimana sesuai kesenangan mereka, untuk menghabiskan waktu sehingga Setan kembali. Ia melewati dalam perjalanannya ke Gerbang Gerbang Neraka, bahwa gerbang gerbang tersebut tertutup, dan siapa yang duduk disana menjaganya, oleh siapa akhirnya gerbang gerbang tersebut dibuka, dan menemukan Jurang tak terseberangi antara Neraka dan Sorga; dengan banyak kesulitan dia berhasil melewatinya, setelah diarahkan oleh Kekacauan, Kuasa tempat tersebut, sehingga terlihat Dunia baru yang ia cari.

Tinggi diatas sebuah Tahta Kerajaan, yang jauh
melebihi kekayaan Ormus dan India,
Atau dimana Negeri Negeri Timur yang semarak dengan penuh kekayaan
Menghujani Raja Rajanya dengan Mutiara dan Emas Biadab,
Setan duduk ditinggikan, yang sepantasnya dinaikkan [ 5 ]
Ke ketinggian yang buruk; dan dari rasa putus asa
Demikian tinggi diangkat tanpa harapan, yang menghendaki
Jauh lebih tinggi lagi, tak terpuaskan ia melancarkan
Perang Sia Sia dengan Sorga, dan tidak juga belajar dari hasilnya
Pikiran pikiran angkuhnya dengan demikian menjadi nyata. [ 10 ]
Kuasa Kuasa dan Kekuasaan Kekuasaan, Para illah Sorga,
Sebab tidak ada jurang dalamnya yang bisa menahan
Kekuatan abadi, walau tertindas dan jatuh,
Aku tidak menganggap Sorga terhilang. Dari kejatuhan ini
Keunggulan Sorgawi akan naik, akan muncul [ 15 ]
Lebih mulia dan lebih mengerikan daripada sebelum kejatuhan ini,
Dan tidak usah takut nasib yang sama kedua kalinya:
Walaupun akulah yang benar, dan Hukum Sorga yang ditetapkan
Telah menciptakan Pemimpinmu dulu, barulah pilihan bebas,
Dengan hal hal lainnya, dalam Sidang maupun dalam Pertempuran, [ 20 ]
Yang telah sepantasnya dicapai, namun kekalahan ini
Sejauh ini setidak tidaknya telah dipulihkan, telah lebih lebih lagi
Didirikan diatas sebuah Tahta yang aman dan tak akan dicemburui
Yang diserahkan dengan persetujuan penuh. Keadaan yang lebih membahagiakan
Di Sorga, yang menyertai martabat, mungkin akan mengundang [ 25 ]
Iri hati dari tiap malaikat yang lebih rendah; namun siapa disini
Yang akan merasa iri hati pada ia yang tempat tertingginya menyerahkannya
Paling depan berdiri melawan bidikan Sang Pengguntur
Ia yang menjadi pertahananmu, yang letaknya mengutuk ia mendapat bagian terbesar
Kesakitan tanpa akhir? Dimana tidak ada kelebihan [ 30 ]
Yang bisa diperebutkan, tidak ada pertentangan bisa muncul
Dari Kelompok; sebab pasti tidak ada yang mau mengkehendaki di Neraka
Keutamaan, tidak ada seorang pun, yang bagiannya begitu kecil
Dari kesakitannya sekarang, dengan pikiran penuh hasrat
Akan mengingini lebih banyak lagi. Dengan kelebihan inilah [ 35 ]
Kita bersatu, dan Iman yang teguh, dan persetujuan yang kokoh,
Lebih daripada di Sorga, kita sekarang kembali
Untuk mengambil warisan kita sepantasnya yang sudah dari dahulu kala,
Lebih pasti kita akan lebih makmur daripada kemakmuran sekalipun
Bisa memastikannya; dan dengan cara terbaik apa yang bisa, [ 40 ]
Apakah dengan Perang terbuka atau tipudaya terselubung,
Kita sekarang bersoal; siapa yang bisa menasehatkan, boleh berbicara.
Ia selesai, dan setelah ia Molokh, Raja Pemegang Kekuasaan
Berdiri, Roh yang paling kuat dan ganas
Yang bertempur di Sorga; sekarang menjadi lebih ganas oleh rasa putus asa: [ 45 ]
Ia yakin bahwa dengan Sang Kekal bisa dianggap
Setara dalam kekuatan, dan daripada menjadi kurang kuat
Tidak mempedulikan apapun sama sekali; dengan kehati hatian itu hilang juga
Seluruh rasa takutnya: akan Allah, atau Neraka, atau apa yang lebih buruk lagi
Ia tidak mempedulikannya, dan kata kata ini diucapkannya kemudian. [ 50 ]
Nasehatku adalah Perang terbuka: Mengenai Tipudaya,
Lebih tidak berkeahlian, aku tidak berbangga: biarlah mereka
Bersiasat jikalau harus, atau ketika diperlukan, namun jangan sekarang.
Sebab sementara mereka duduk bersiasat, sisanya yang lain,
Berjuta juta yang berdiri Bersenjata, dan menanti penuh keinginan [ 55 ]
Tanda untuk naik bangkit, yang sekarang duduk diam disini
Para buronan Sorga, dan sebagai ganti tempat tinggal mereka
Menerima Sarang kehinaan yang gelap dan memalukan ini,
Penjara KezalimanNya yang Memerintah
Karena kita berlambat lambat? Tidak, mari kita memilih [ 60 ]
Dipersenjatai dengan nyala Neraka dan amuk sekaligus
Melalui Menara Menara tinggi Sorga memaksa masuk tanpa bisa dibendung,
Dan mengubah Siksaan kita menjadi Senjata yang mengerikan
Melawan Sang Penyiksa; saat melawan suara
KendaraanNya yang Mahakuasa Dia akan mendengar [ 65 ]
Petir Neraka, dan sebagai ganti Halilintar melihat
Api hitam dan kengerian yang ditembakkan dengan murka yang sama
Diantara Malaikat MalaikatNya; dan TahtaNya sendiri
Bercampur dengan Belerang Tartarus, dan api yang asing,
Yang merupakan Siksaan yang diciptakanNya sendiri. Namun barangkali [ 70 ]
Jalan kita kelihatannya sulit dan curam untuk ditempuh
Dengan sayap sayap tegak melawan seteru yang lebih tinggi.
Biar mereka berpikir, jikalau rendaman lelap
Dari Danau yang penuh kelupaan itu belum melumpuhkan,
Sehingga dengan gerak pantas kita bisa bangkit [ 75 ]
Naik ke kediaman semula kita: gerak turun dan kejatuhan
Bagi kita hal yang hina. Siapa yang baru baru ini belum merasakan
Ketika Musuh kita yang ganas mengejar dekat Barisan Belakang kita yang terpecah
Dengan menghina, dan mengejar kita melalui Jurang Dalam,
Dengan paksaan dan pelarian yang susah payah demikiankah [ 80 ]
Kita tenggelam demikian rendahnya? Menaiki itu mudah saja;
Hasilnya pantas kita takuti; haruskah kita memancing lagi
Dia yang lebih kuat dari kita, MurkaNya bisa menemukan cara yang lebih buruk lagi
Untuk menghancurkan kita: jikalau di Neraka
Ketakutan akan hal yang lebih buruk sudah musnah: apa yang bisa lebih buruk [ 85 ]
Daripada tinggal disini, diusir keluar dari kebahagiaan, terkutuk
Dalam kedalaman hina ini untuk terus mengucapkan ratap;
Dimana kesakitan dari api yang tak terpadamkan
Harus terus menyiksa kita tanpa harapan akan berakhir
Pelayan Pelayan kemarahanNya, ketika Hajaran [ 90 ]
Tanpa bisa ditolak, dan saat saat penuh siksaan
Memanggil kita menuju Pertobatan? Lebih hancur dari demikian lagi
Kita akan jadi terhapus dan musnah sama sekali.
Apa yang perlu kita takutkan? Untuk apa kita ragu menyalakan
AmukNya yang teramat sangat? Yang jikalau sampai puncak kemurkaanNya, [ 95 ]
Akan sepenuhnya menghanguskan kita, dan membuat menjadi
Musnah wujud ini, jauh lebih bahagia
Daripada menderita sengsara dalam wujud abadi:
Atau jikalau zat kita sememangnya Ilahi,
Dan tidak bisa musnah, seburuk buruknya kita [ 100 ]
Dalam hal ini tidak apa apa; dan melalui pengalaman tersebut kita bisa merasakan
Kekuatan kita cukup untuk mengganggu SorgaNya,
Dan dengan serangan serangan berkelanjutan terus Membahayakan,
Walaupun tidak tertembus, TahtaNya yang ditakdirkan:
Yang jikalau bukan Kemenangan adalah Pembalasan. [ 105 ]
Ia selesai dengan penuh kemarahan, dan wajahnya menunjukkan
Pembalasan penuh keputusasaan, dan pertempuran berbahaya
Bagi mahluk yang kurang dari Para illah. Di sisi lainnya naik berdiri
Belial, dalam tindak tanduk lebih anggun dan lemah lembut;
Malaikat yang lebih indah lagi tidak hilang dari Sorga; ia tampaknya [ 110 ]
Penuh wibawa dan tujuan tujuan mulia:
Namun semuanya palsu dan kosong; walau Lidahnya
Meneteskan Manna, dan bisa membuat hal hal buruk tampak seperti
Tujuan yang lebih baik, untuk membingungkan dan menggagalkan
Nasehat Nasehat Paling Matang: sebab pikirannya memang hina; [ 115 ]
Untuk berbuat jahat berpikir keras, namun untuk melakukan hal hal yang Lebih Mulia
Lamban dan malas: namun memang ia kedengarannya menyenangkan telinga,
Dan dengan nada suara penuh bujukan ia mulai.
Aku sememangnya menyetujui Perang terbuka, Oh Rekan Rekan,
Sebab aku tidak kurang bencinya; namun jika apa yang didorong sebagai [ 120 ]
Alasan utama untuk melancarkan Perang dengan segera,
Tidak membuatku menjadi tidak yakin, dan tampaknya memperlihatkan
Pertanda yang mencemaskan atas hasil keseluruhan nantinya:
Ketika ia yang paling unggul dalam perbuatan perbuatan Perang,
Dalam hal hal yang ia nasehatkan dan lakukan [ 125 ]
Tanpa keyakinan, mendasarkan keberaniannya pada rasa putus asa
Dan kemusnahan sepenuhnya, sebagai sasaran
Seluruh tujuannya, untuk mencapai balas dendam yang mengerikan.
Pertama tama, Balas Dendam apa? Menara Menara Sorga dipenuhi
Dengan penjaga penjaga Bersenjata, yang membuat semua jalan masuk [ 130 ]
Tidak bisa ditembus; seringkali di bagian Jurang Dalam yang berbatasan
Berkemah Legion Legion mereka, atau dengan sayap sayap kasat mata
Mengintai jauh dan lebar sampai ke Daerah kegelapan,
Mencemooh segala sergapan. Atau bisakah kita memaksakan jalan
Dengan kekuatan, dan di belakang kita seluruh Neraka akan bangkit [ 135 ]
Dengan Pemberontakan paling hitam, untuk membingungkan
Terang Sorga Yang Paling Suci, namun Musuh Besar kita
SeluruhNya tidak bisa dicemari akan diatas TahtaNya
Duduk tak tercemar, dan wujud Sorgawi
Yang tidak bisa dikotori akan segera mengeluarkan [ 140 ]
Kekacauan di dalamnya, dan membersihkan api yang lebih kotor
Dengan Penuh Kemenangan. Jika kita terusir, harapan terakhir kita
Adalah keputusaan sepenuhnya; kita harus menahan sampai habis
Sang Penakluk Mahakuasa sampai selesai seluruh AmukNya,
Dan itu yang akan mengakhiri kita, itu menjadi kesembuhan bagi kita, [ 145 ]
Menjadi musnah; kesembuhan menyedihkan; sebab siapa yang hendak kehilangan,
Walau penuh kesakitan sekalipun, wujud yang berakal budi ini,
Pikiran pikiran yang berkelana di sepanjang Kekekalan,
Malah menjadi musnah, tertelan dan terhilang
Dalam rahim luas kegelapan yang tidak tercipta, [ 150 ]
Kosong akan rasa dan gerak? Dan siapa tahu,
Seandainya hal ini baik, apakah Seteru kita yang marah
Bisa memberikannya, atau akankah Dia? Bagaimana Dia bisa
Sungguh meragukan; bahwa Dia tidak akan pernah melakukannya adalah pasti.
Akankah Dia, begitu bijak, meluapkan sekaligus amukNya, [ 155 ]
Pasti karena ketidakmampuan, atau tanpa sadar,
Memberikan kepada Musuh MusuhNya keinginan mereka, dan mengakhiri
Mereka dalam kemarahanNya, yang telah disimpankanNya
Untuk dihukum tanpa akhir? bagaimana kita akan berakhir?
Kata mereka yang menasehatkan Perang, kita diperintahkan, [ 160 ]
Disimpankan dan ditakdirkan untuk kesengsaraan Abadi;
Apapun yang kita lakukan, apa lagi yang bisa kita derita,
Derita apa lagi yang bisa lebih buruk bagi kita? Apakah ini yang terburuk,
Duduk demikian, saling mencari nasehat, lalu Mempersenjatai diri?
Bagaimana jika kita melarikan diri dengan kekuatan penuh, dikejar dan dihajar [ 165 ]
Dengan Petir Sorga yang menghajar, dan mencari cari
Jurang Dalam untuk menaungi kita? Neraka ini akan tampak
Seperti tempat perlindungan dari hajaran hajaran tersebut: atau saat kita terbaring
Dirantai dalam Lautan Api? Itu pasti lebih buruk lagi.
Bagaimana jikalau nafas yang menyalakan api api mengerikan itu [ 170 ]
Terbangunkan akan meniupkan mereka tujuh kali lipat lebih mengamuk
Dan menenggelamkan kita dalam nyala nyala api? Atau dari atas
Nantinya pembalasan sambung menyambung mempersenjatai lagi
Tangan Kanan MerahNya yang akan menulahi kita? Bagaimana nantinya jikalau
Seluruh tempat penyimpanan Sorga dibuka, dan Langit [ 175 ]
Neraka ini akan menyemburkan Lapisan Lapisan Apinya,
Kengerian yang amat sangat, mengancam kita senantiasa akan keruntuhan dahsyat
Yang akan terjadi nanti diatas kepala kita; sementara kita sedang
Merancang atau mendorong perang penuh kemuliaan,
Terseret dalam Badai berapi akan terlemparkan [ 180 ]
Dan masing masing terpakukan ke batunya, menjadi permainan dan mangsa
Puting beliung yang menggocang, atau selamanya tenggelam
Di bawah Lautan yang mendidih disana, terbelenggu Rantai;
Disana kita akan bersepakat dengan erangan tak henti hentinya,
Tanpa diberi peristirahatan, tanpa dikasihani, tanpa diampuni, [ 185 ]
Zaman demi zaman tanpa harapan perhentian; hal ini akan lebih buruk lagi.
Maka dari itu Perang, terbuka maupun tersembunyi, sama saja
Suaraku menasehatkan jangan; sebab apa yang bisa dicapai kekuatan atau tipudaya
Terhadap Dia, atau siapa bisa menipu PikiranNya, yang MataNya
Memandang segala sesuatu sekali lihat? Dia dari ketinggian di Sorga [ 190 ]
Segala gerak gerik kita ini sia sia saja, Dia melihat dan menertawakan kita;
Tidak lebih Mahakuasa sehingga bisa menahan keperkasaan kita
Daripada bijak sehingga bisa menggagalkan segala rencana dan tipudaya kita.
Akankah kita hidup demikian hina, bangsa Sorga
Begini diinjak injak, demikian diusir keluar untuk menderita disini [ 195 ]
Rantai dan Siksaan Siksaan ini? Lebih baik semua ini daripada yang lebih buruk
Sesuai nasehatku; sebab takdir yang tak terhindarkan
Menundukkan kita, dan Titah Mahakuasa
Adalah kehendak Sang Penakluk. Untuk menderita, seperti untuk berbuat,
Kekuatan kita sama mampunya, dan Hukum juga bukan tidak adil [ 200 ]
Yang telah menetapkan demikian: pertama kali sudah ditetapkan,
Jikalau kita bijak, melawan seteru yang demikian hebatnya
Bertanding, dan malah ragu ragu apa hasilnya.
Aku tertawa, ketika mereka yang lantang dengan Tombak
Dan pemberani, saat Tombak mereka gagal, menjadi ciut dan takut [ 205 ]
Apalagi yang sudah mereka ketahui masih harus terjadi, untuk menahan
Pengucilan, atau kehinaan, atau penahanan, atau kesakitan,
Yang merupakan keputusan Penakluk mereka: Inilah yang sekarang menjadi
Nasib kita; yang jika bisa kita menopang dan menahannya,
Musuh Tertinggi kita pada masanya nanti mungkin sudah menghabiskan [ 210 ]
KemarahanNya, dan mungkin karena jauhnya dari kita
Tidak akan memikirkan kita lagi karena kita tidak mengusikNya, terpuaskan
Dengan apa yang sudah dihukumkan ke kita; pada saat itu api api yang mengamuk ini
Akan mengecil, jikalau NafasNya tidak menghembus nyala nyalanya lagi.
Zat kita yang lebih murni akan mengatasi [ 215 ]
Uap yang busuk tersebut, atau sesudah terbiasa tidak akan terasa lagi,
Atau kita akan berubah pada akhirnya, dan akan menyesuaikan diri dengan tempat ini
Baik zat maupun sifat alami kita, akan menerima
Dengan tidak asing lagi panas yang ganas ini, dan tanpa merasa kesakitan;
Kengerian ini akan menjadi ringan, kegelapan ini menjadi terang, [ 220 ]
Lagipula harapan apa yang oleh saat saat yang terus berjalan
Pada hari hari depan akan muncul, peluang apa, perubahan apa
Yang boleh diharapkan, sebab keadaan kita sekarang tampaknya
Menyenangkan walau buruk, dan walau buruk bukan yang terburuk,
Jika kita tidak mengundang lebih banyak sengsara ke diri kita. [ 225 ]
Demikian Belial dengan kata kata yang tampaknya beralasan
Menasehatkan diam dengan hina, dan berdiam diri dengan tampaknya berdamai,
Bukan benar benar berdamai: dan setelah dia demikian Mammon berbicara.
Apakah untuk menggulingkan Raja Sorga
Kita berperang, jika Perang adalah jalan terbaik, atau untuk mendapat kembali [ 230 ]
Hak kita yang hilang: untuk menggulingkan Dia maka kita
Boleh berharap jika Takdir yang abadi akan mengalah
Kepada Peluang yang tidak bisa diharapkan, dan Kekacauan menilai perjuangan kita:
Yang pertama sia sia saja diharapkan dan sama sia sianya membujuk
Yang kedua: sebab tempat apa yang bisa untuk kita [ 235 ]
Dalam batasan Sorga, kecuali Tuhan Sorga yang tertinggi
Kita kalahkan? Semisalnya Dia akan melembutkan hatiNya
Dan memberikan Karunia bagi semua, berdasarkan janji
Penaklukan Diri kita yang diperbaharui; dengan mata apa kita bisa
Berdiri di HadiratNya dengan rendah hati, dan menerima [ 240 ]
Hukum Hukum Teguh yang diberikan, dan merayakan TahtaNya
Dengan Himne Himne tersendat sendat, dan kepada KeAllahanNya memazmurkan
Halleluya dengan terpaksa; sementara Dia dengan Agung duduk
Raja Berdaulat kita yang kita cemburui, dan MezbahNya bernafaskan
Bau Harum Ambrosia dan Bunga Bunga Ambrosia [ 245 ]
Persembahan kita yang menjadi budak. Ini yang akan menjadi tugas kita
Di Sorga, ini yang akan menjadi kesenangan kita; betapa melelahkannya
Sepanjang masa dihabiskan menyembah kepadaNya
Yang kita benci. Mari kita jangan mengejar hal apa
Yang tidak mungkin tercapai dengan kekuatan, atau apa yang diizinkanNya [ 250 ]
Yang tidak bisa kita terima, walau di Sorga sekalipun, keadaan kita nantinya
Sebagai pelayan yang megah, namun lebih baik kita mencari
Kebaikan bagi kita dari diri kita sendiri, dan dari kepunyaan kita sendiri
Hidup kepada diri kita sendiri, walau di ruang yang luas ini,
Kita bebas, dan tidak bertanggung jawab pada siapapun, kita lebih menyukai [ 255 ]
Kemerdekaan yang keras daripada kuk yang lembut
Dari Kemegahan penuh perbudakan. Keagungan kita akan muncul
Lebih jelas lagi, ketika hal hal besar maupun kecil,
Berguna maupun berbahaya, makmur maupun miskin
Kita bisa menciptakannya, dan di tempat mana sebelumnya [ 260 ]
Kita makmur dalam keadaan buruk, dan menghasilkan kesenangan dari kesakitan
Melalui kerja keras dan ketahanan. Dunia jurang dalam
Yang penuh kegelapan ini begitu kita takutikah? Betapa seringnya didalam
Awan awan tebal dan gelap Tuhan Sorga yang memerintah atas semua
memilih berdiam, walau KemuliaanNya tak tersamar, [ 265 ]
Dan dengan Keagungan kegelapan di sekeliling
Menutupi TahtaNya; yang darimana guntur guntur meraung
Dan mengamuk, sehingga Sorga bagaikan Neraka?
Sebagaimana Dia meniru kegelapan kita, tidak bisakah kita dengan TerangNya
Meniru jika kita mau? Tanah Padang Pasir ini [ 270 ]
Tidak kekurangan harta tersembunyi, Batu Permata maupun Emas;
Tidak kekurangan juga kita keahlian atau Seni, yang darinya kita bisa menghasikan
Keagungan; dan apalagi yang bisa ditunjukkan di Sorga?
Siksaan kita juga pada waktunya nanti bisa
Menjadi Unsur Unsur kita, Api yang menikam ini [ 275 ]
Menjadi sama lembut seperti kerasnya sekarang, zat kita berubah
Menjadi zatnya; yang harus terjadi untuk menghilangkan
Perasaan sakit. Segala hal mengundang kita
Kepada Nasehat Nasehat damai, dan membereskan Keadaan
Ketertiban, bagaimana nantinya dengan aman kita bisa [ 280 ]
Mengatur keadaan buruk kita sekarang, dengan tetap mengingat
Keadaan kita sekarang dan dulunya, lebih baik kita membuang jauh jauh
Segala pikiran tentang perang: kamu sekalian telah mendengar nasehatku.
Ia baru saja selesai, ketika bisik bisik sedemikian memenuhi
Sidang tersebut, seperti ketika Batu Karang yang kosong menyimpan [ 285 ]
Suara angin yang berhembus, yang sepanjang malam
Telah mengaduk aduk Lautan, yang dengan suara suara serak menidurkan
Para penjelajah lautan yang berjaga, yang Perahunya
Atau Jangkarnya berjangkar di Selat yang berbatu batu
Setelah Badai: Sambutan sedemikian terdengar [ 290 ]
Setelah Mammon selesai, dan Nasehatnya menyenangkan mereka,
Yang menasehatkan damai: sebab Medan Pertempuran yang lain lagi
Lebih mereka takuti daripada Neraka: sebegitu mengerikannya ketakutan
Akan Petir dan Pedang Mikhael
Masih mengaduk ngaduk diri mereka; namun tidak kurang hasrat mereka [ 295 ]
Untuk mendirikan Kemaharajaan di dunia paling bawah, yang mungkin akan bangkit
Oleh siasat, dan perjalanan waktu yang lama,
Yang dalam percontohannya berlawanan dengan Sorga.
Ketika Beelzebub melihat hal tersebut, yang darinya,
Kecuali Setan, tidak ada yang duduk lebih tinggi, dengan khidmat [ 300 ]
Tampaknya ia berdiri, dan dengan bangkit berdirinya tampaknya
Bagaikan Tiang Kenegaraan; dalam di Dahinya terukir
Tujuan yang pasti dan tanggung jawab kepada rakyat;
Dan nasehat Kekuasaan masih terpancar di wajahnya,
Penuh Keagungan walau dalam kehancuran: bagai seorang bijak ia berdiri [ 305 ]
Dengan bahu Bagaikan Atlas yang kuat untuk menanggung
Berat Kekuasaan Kerajaan yang paling perkasa sekalipun; pandangannya
Menarik pendengar dan perhatian senyap bagaikan Malam
Atau udara Siang di Musim Panas, maka berbicara ia demikian.
Tahta Tahta dan Kuasa Kuasa Kemaharajaan, turunan Sorga [ 310 ]
Keunggulan Sorgawi; atau Gelar Gelar ini sekarang
Harus kita lepaskan, dan berganti gelar kita dinamakan
Penguasa Neraka? Sebab demikianlah suara terbanyak
Cenderung, untuk melanjutkan disini, dan membangun disini
Sebuah Kemaharajaan yang bertumbuh; tanpa ragu lagi; saat kita bermimpi, [ 315 ]
Dan tidak mengetahui bahwa Raja Sorga telah menetapkan
Tempat ini sebagai penjara bawah tanah kita, bukan tempat pelarian yang aman
Diluar jangkauan TanganNya yang Perkasa, sehingga kita bisa hidup bebas
Dari Kuasa Hukum Sorga yang agung, dalam Persekutuan baru
Berkumpul melawan TahtaNya, malahan untuk tetap [ 320 ]
Dalam belenggu paling ketat, walau demikian jauhnya disingkirkan,
Disebabkan oleh penahanan yang tidak bisa dihindarkan, tetap disimpankan
Sebagai sejumlah besar tawananNya: Sebab Dia, yakinlah
Di ketinggian maupun kedalaman, tetap yang pertama dan terakhir akan Memerintah
Sebagai Raja satu satunya, dan bagian KerajaanNya takkan berkurang satupun [ 325 ]
Oleh pemberontakan kita, namun atas Neraka memperluas
KemaharajaanNya, dan dengan Gada Besi memerintah
Kita disini, sebagaimana dengan Tongkat Emas memerintah mereka yang di Sorga.
Maka mengapa kita duduk disini memperbincangkan damai dan Perang?
Perang telah menentukan kita, dan menghancurkan kita dengan kekalahan [ 330 ]
Yang tidak dapat diperbaiki; mengenai syarat syarat perdamaian belum ada
Yang dijaminkan atau dicari; sebab damai apa yang akan diberikan
Kepada kita yang diperbudak, melainkan hukuman penahanan yang keras,
Dan bilur bilur, dan hukuman sepihak
Yang akan diputuskan atas kita? Dan damai apa yang bisa kita balaskan, [ 335 ]
Melainkan permusuhan dan kebencian sehingga batas kekuatan kita,
Perlawanan yang tidak tertundukkan, dan pembalasan dendam walaupun lambat,
Namun akan selalu bersiasat bagaimana Sang Penakluk bisa paling sedikit
Menikmati buah penaklukanNya, dan paling sedikit bersukacita
Dalam melakukan hal yang paling kita rasakan dalam penderitaan kita? [ 340 ]
Tidak juga akan kekurangan kesempatan, tidak perlu juga kita
Dengan perjalanan berbahaya menyerbu
Sorga, yang tembok tembok tingginya tidak takut akan serangan maupun Kepungan,
Atau sergapan dari Jurang Dalam. Bagaimana jika kita bisa menemukan
Suatu usaha yang lebih mudah? Ada sebuah tempat [ 345 ]
(Jikalau nubuat mahsyur tersebut yang sudah sejak dulu kala di Sorga
Tidak salah) sebuah Dunia lain, tempat kedudukan bahagia
Sebuah Bangsa baru yang disebut Manusia, sekitar waktu sekarang ini
Diciptakan seperti kita, walau lebih rendah
Dalam kekuatan dan keunggulan, namun lebih disenangi [ 350 ]
Dia yang memerintah diatas; demikianlah KehendakNya
Diumumkan diantara Para illah, dan dengan sebuah Sumpah,
Yang menggetarkan seluruh Sorga, demikian diteguhkan.
Mari kita mengarahkan segala pikiran kita kesana, untuk mempelajari
Mahluk apa yang tinggal disana, dengan wujud apa, [ 355 ]
Atau zat apa, bagaimana diperlengkapi, dan apa Kekuatan mereka,
Dan dimana kelemahan mereka, bagaimana kita bisa berusaha sebaik baiknya,
Dengan kekuatan maupun tipudaya: Walau Sorga tertutup rapat,
Dan Pengadil Sorga yang agung duduk aman
Dalam kekuatanNya sendiri, tempat ini mungkin terbuka lebar [ 360 ]
Yang merupakan batas terluar KerajaanNya, ditinggalkan
Untuk dipertahankan mereka yang meninggalinya: disini mungkin
Tindakan yang menguntungkan bisa dicapai
Dengan gerakan tiba tiba, apakah dengan api Neraka
Kita akan menghanguskan seluruh CiptaanNya, atau memiliki [ 365 ]
Seluruhnya sebagai milik kita, dan menyingkirkan mereka seperti kita disingkirkan,
Para penghuninya yang lemah, atau jika tidak kita singkirkan,
Membujuk mereka ke Pihak kita, maka Allah mereka
Akan menjadi seteru mereka, dan dengan tangan yang menyesal
Memusnahkan pekerjaan tanganNya sendiri. Ini akan melebihi [ 370 ]
Balas dendam yang biasa biasa saja, dan mengganggu sukacitaNya
Yang disebabkan oleh Kehancuran kita, dan Sukacita kita bangkit
Oleh terganggunya Dia; ketika Anak AnakNya yang tersayang
Dilemparkan kepala terlebih dahulu seperti kita, akan mengutuk
Nenek Moyang mereka yang lemah, dan kebahagiaan yang memudar, [ 375 ]
Akan memudar secepat cepatnya. Nasehatkanlah bila ini pantas
Diusahakan, daripada kita duduk dalam kegelapan ini
Merancang Kemaharajaan yang sia sia. Demikian Beelzebub
Mengajukan Nasehatnya yang keji, yang pertama kali diajukan
Oleh Setan, dan yang sebagian diajukannya: sebab darimana lagi, [ 380 ]
Namun dari Bapa segala kejahatan bisa Muncul
Niat jahat yang demikian dalamnya, untuk menyesatkan umat
Manusia melalui satu orang, dan Bumi dengan Neraka
Hendak dicampurkannya dan diikatkannya, semua ini dilakukan untuk menghujat
Sang Pencipta yang agung? Namun hujatan mereka sekalipun tetap juga [ 385 ]
Menambah kemuliaanNya. Rancangan yang lantang ini
Sangat menyenangkan seluruh Penguasa Neraka, dan sukacita
Berbinar binar di mata mereka; dengan persetujuan penuh
Mereka bersuara: lalu demikian dilanjutkannya ucapannya.
Kalian telah menilai dengan baik, perbincangan panjang ini selesai baik, [ 390 ]
Sinode Para illah, dan sebagaimana siapa kalian semua,
Hal hal besar telah ditetapkan; yang dari kedalaman terdalam
Akan sekali lagi mengangkat kita, melawan Takdir sekalipun,
Mendekati Tempat Kedudukan kita sejak dulu kala; mungkin dalam pandangan mata
Daerah daerah terang itu, dimana dengan Pasukan Pasukan berdekatan [ 395 ]
Dan pertempuran pertempuran yang muncul dari peluang kita bisa mencoba
Memasuki kembali Sorga; atau di suatu Daerah tengah
Kita tinggal tanpa diabaikan oleh Terang Sorga yang benderang
Dengan aman, dan dengan sinar Timur yang terang benderang
Membersihkan kegelapan ini; dengan Udara yang lembut dan nikmat, [ 400 ]
Menyembuhkan bekas luka oleh Api Api yang melarutkan ini
Kita akan menghirup penyembuhan. Namun pertama tama siapa yang akan kita kirim
Untuk mencari dunia baru ini, siapa yang bisa kita dapatkan
Yang mencukupi tugas tersebut? Siapa akan berusaha dengan langkah mencari cari
Di Jurang Dalam tak terbatas tanpa dasar dan gelap [ 405 ]
Dan melalui kegelapan yang tampak mencari
Jalannya yang tak dikenalnya, atau menyebarkan jalan terbangnya di udara
Terangkat dengan sayap sayap tak terlelahkan
Diatas jurang yang luas tersebut, sebelum ia sampai
Ke Pulau bahagia itu; kekuatan apa, keahlian apa nantinya [ 410 ]
Yang bisa mencukupi, atau jalan menghindar bagaimana akan membawa ia selamat
Melalui Penjagaan ketat dan Penempatan berlapis lapis
Para Malaikat yang berjaga di sekelilingnya? Disini ia memerlukan
Seluruh kehati hatian, dan kita sekarang tidak kurang hati hatinya
Memilih demi kepentingan kita; sebab atas ia yang kita kirim, [ 415 ]
Berat seluruh harapan terakhir kita bergantung.
Demikian diucapkannya, ia duduk; dan pengharapannya membuat
Ia terlihat ragu ragu, menanti siapa yang muncul
Untuk mendukung, atau melawan, atau menanggung
Usaha yang berbahaya tersebut; namun semua duduk diam, [ 420 ]
Memikirkan bahaya tersebut dengan pikiran pikiran dalam; dan masing masing
Di wajah yang lainnya membaca kekecewaan dirinya sendiri
Dan terperangah: tidak satupun dari mereka yang terpilih dan terutama
Dari Juara Juara yang berperang di Sorga bisa ditemukan
Demikian tangguhnya sehingga menawarkan diri atau menerima [ 425 ]
Sendirian perjalanan penuh kengerian itu; sehingga akhirnya
Setan, yang sekarang kemuliaan penuhnya telah menaikkannya
Diatas kawan kawannya, dengan kebanggaan Kerajaan
Sadar akan harga diri tertingginya, tanpa tergerak demikian berucap.
Oh Turunan Sorgawi, Tahta Tahta Sorgawi Tertinggi, [ 430 ]
Dengan akal sehat kesunyian dalam dan keengganan telah
Menawan kita, walau tidak kecewa: panjang jalan yang akan dilalui
Dan sulit, yang dari dalam Neraka menuju ke terang;
Penjara kita memang kuat, cekungan Api yang besar ini,
Yang tidak mungkin dijangkau, memenuhi sekeliling kita [ 435 ]
Sembilan kali lipat, dan gerbang gerbang Sekeras Berlian yang menyala nyala
Yang dipalangi di atas kita menahan segala jalan keluar.
Melewati semua ini, jika ada yang bisa, kekosongan dalam
Malam yang tak berwujud menerima ia selanjutnya
Lebar menganga, dan dengan kemusnahan wujud sepenuhnya [ 440 ]
Mengancamnya, ditenggelamkan dalam teluk yang melenyapkan tersebut.
Jika sesudah itu ia lolos sampai ke dunia apapun juga,
Atau Daerah tak dikenal, masih tersisa baginya
Bahaya bahaya yang tak diketahui dan jalan keluar yang sama sulitnya.
Namun aku tidak pantas menduduki Tahta ini, Oh Rekan Rekan, [ 445 ]
Dan Kedaulatan Kemaharajaan ini, yang dihiasi
Dengan kemegahan, dipersenjatai dengan kekuatan, jika hal apa yang diusulkan
Dan dinilai penting bagi kepentingan bersama, dalam bentuk
Kesulitan atau bahaya bisa menahan
Aku dari mencobanya. Maka dari itu mengapa aku menerima [ 450 ]
Kekuasaan Kerajaan ini, dan tidak menolak untuk Memerintah,
Namun juga menolak untuk menerima bagian yang sama besarnya
Dari marabahaya seperti dari kehormatan, yang sama harusnya
Bagi ia yang Memerintah, dan lebih lebih lagi baginya
Bagian marabahaya, sebab ia diatas semuanya [ 455 ]
Dihormati sedemikian tingginya? Pergilah Para Kuasa yang perkasa,
Kengerian Sorga, walau terjatuh; anggaplah seperti di rumah,
Sementara tempat ini menjadi rumah kita, hal terbaik apa yang bisa meringankan
Kesengsaraan yang kita derita saat ini, dan membuat Neraka
Lebih bisa ditahankan; jika ada penyembuhan atau mukjizat [ 460 ]
Untuk meringankan atau menipu, atau melonggarkan kesakitan
Rumah yang penuh keburukan ini: tidak usah diselingi berjaga jaga
Terhadap Seteru yang waspada, sementara aku di luar
Melalui seluruh Batas Batas kehancuran yang gelap mencari
Keselamatan bagi kita semua: usaha ini [ 465 ]
Jangan ada seorangpun yang berbagi denganku. Demikian sambil berkata ia bangkit
Sang Raja, dan mencegah jawaban apapun juga,
Dengan penuh pertimbangan, agar jangan dari ketetapannya memberanikan
Yang lain dari para penghulu yang mungkin menawarkan
(Yang pastinya ditolak) apa yang sebelumnya mereka takutkan; [ 470 ]
Dan dengan demikian ditolaknya mungkin dalam pendapat berdiri
Sebagai Saingannya, dan memenangkan dengan gampang kemahsyuran agung
Yang harus didapatkan olehnya melalui marabahaya besar. Namun mereka
Tidak lebih takut akan pertualangan tersebut daripada akan suaranya
Yang melarang; dan sekaligus bersamanya mereka bangkit; [ 475 ]
Berdirinya mereka semua sekaligus bagaikan suara
Petir yang terdengar dari jauh. Kearahnya mereka membungkuk
Dengan penghormatan penuh kekaguman; dan sebagai allah
Meninggikan ia setara dengan Yang Mahatinggi di Sorga:
Tidak gagal juga mereka menunjukkan betapa mereka memujinya, [ 480 ]
Yang demi keselamatan bersama ia memandang rendah
Keselamatannya sendiri: sebab tidak juga Roh Roh terhukum
Kehilangan seluruh keunggulan mereka; agar orang orang jahat jangan sombong
Akan perbuatan perbuatan mereka yang baikdi bumi, yang dipancing oleh kemuliaan,
Atau hasrat tertutup yang tampak dari luar bagaikan semangat. [ 485 ]
Demikianlah sidang rahasia dan penuh keraguan mereka
Diakhiri dengan sukacita oleh karena Penghulu mereka yang tak tertandingi:
Seperti ketika dari puncak gunung tampak awan awan gelap
Naik, ketika angin angin Utara tidur, Tersebar
Di wajah Sorga yang cemerlang, dan Langit yang semakin gelap [ 490 ]
Tampak mendung diatas dataran Salju yang menjadi gelap, atau hujan;
Jikalau Matahari yang gemilang dengan selamat tinggal yang manis
Menyebarkan sinar sorenya, maka dataran dataran pun menjadi cerah kembali,
Burung burung memperbaharui lagu lagunya, dan segala kawanan yang mengembik
Saling berbagi sukacita, sehingga bukit dan lembah pun bergema. [ 495 ]
Oh betapa memalukan bagi manusia! Iblis dengan Iblis sama sama terkutuk
Memegang persepakatan teguh, hanya manusia saja yang tidak bersatu
Sebagai Mahluk yang berakal sehat, walau dibawah harapan
Karunia sorgawi; dan Allah yang mengumumkan damai,
Namun hidup dalam kebencian, permusuhan, dan pertentangan [ 500 ]
Diantara sesama sendiri, dan melancarkan perang yang kejam,
Merusak Bumi, menghancurkan satu sama lain:
Seakan akan (yang mungkin bisa membuat kita sepakat)
Umat Manusia tidak memiliki seteru seteru dari neraka,
Pada siang dan malam itu juga kehancurannya sedang menunggunya. [ 505 ]
Sidang Stygia tersebut pun membubarkan diri; dan maju
Dalam urutan masing masing datang Para Rekan neraka yang agung:
Dan di tengah tengah mereka Andalan mereka yang perkasa, dan tampak seolah olah
Musuh Sorga yang Tunggal, tidak lebih rendah juga
Dari Maharaja Neraka yang penuh kengerian dengan kemegahan Tertinggi, [ 510 ]
Dan Kedudukan yang meniru Allah; di sekelilingnya
Ditutupi oleh lingkaran luas Serafim berapi api
Dengan panji panji benderang, dan Persenjataan yang amat banyak.
Maka setelah Sidang mereka selesai mereka menyerukan
Dengan Sangkakala Sangkakala kerajaan mengumumkan hasil agung: [ 515 ]
Ke empat penjuru angin empat Kerubim yang tangkas
Menaruh ke mulut mereka Sangkakala bagaikan Emas yang berbunyi
Dan dijelaskan oleh suara Para Utusan: Jurang Dalam yang hampa
Mendengarnya jauh dan luas, dan balatentara Neraka
Dengan teriakan memekakkan, membalasnya dengan seruan kuat. [ 520 ]
Setelah itu pikiran mereka lebih tenang dan lebih bersemangat
Oleh harapan sombong yang palsu, kuasa kuasa yang berbaris itu
Membubarkan diri, dan pergi kesana kemari, masing masing arahnya sendiri
Dijalani, sebagaimana kesukaan hati atau pilihan menyedihkan
Menuntunnya dalam kebingungan, dimana ia paling bisa menemukan [ 525 ]
Perhentian pada pikiran pikirannya yang tidak tenang, dan menjalani
Masa masa mengesalkan, hingga kembalinya Penghulu agung mereka.
Sebagian di Dataran, atau di Udara dengan ringan
Melayang dengan sayap, atau menyenangkan diri dengan Peraduan kecepatan,
Seperti di Permainan Olahraga di Olympia atau di tempat di Pythia; [ 530 ]
Sebagian mengendarai Kuda Kuda berapi mereka, atau menghindari Penanda Akhir
Dengan roda roda tangkas, atau susunan Pasukan depan.
Seperti kala untuk memberi peringatan pada Kota Kota angkuh perang muncul
Yang dikobarkan di Langit penuh pertentangan, dan Pasukan Pasukan bergegas
Berperang di Awan Awan, di depan tiap Rombongan [ 535 ]
Para Ksatria di Udara maju menyambar, dan mengacungkan Tombak mereka
Hingga Legion Legion paling tebal beradu; dengan keahlian Bersenjata
Dari tiap ujung Sorga hingga seluruh langit terbakar.
Yang lainnya dengan amuk tanpa habis bagaikan Taifun yang lebih mengerikan
Merobek Bebatuan dan Bukit Bukit, dan naik diatas Udara [ 540 ]
Dalam puting beliung; Neraka hampir tidak dapat menahan kegaduhan liar itu.
Seperti ketika Alcides dari Oechalia Dimahkotai
Karena penaklukannnya, merasakan jubah yang dicelup racun, dan mengoyakkan
Karena kesakitan akar akar Pepohonan Pinus Thessalia,
Dan juga Lichas dari puncak Oeta dilemparkannya [ 545 ]
Kedalam Laut Euboa. Yang lainnya lebih lembut,
Mengundurkan diri ke sebuah lembah sunyi, menyanyikan
Dengan nada nada Malaikat diiringi dengan Harpa
Perbuatan perbuatan kepahlawanan mereka dan kejatuhan menyedihkan
Karena hasil Pertempuran; dan mengeluh bahwa Takdir [ 550 ]
Yang adalah Keunggulan Merdeka harus tunduk pada Kekuatan atau Peluang.
Nyanyian mereka sepihak, namun keselarasan
(Bagaimana bisa lebih kurang dari itu jika Roh Roh abadi yang bernyanyi?)
Mendiamkan Neraka, dan menawan dengan pesona
Para pendengar yang bergerombol. Dalam percakapan lebih menyenangkan [ 555 ]
(Seperti Kefasihan bagi Jiwa, Nyanyian menyenangkan Indera,)
Yang lainnya terpisah duduk di sebuah Bukit untuk mengundurkan diri,
Dalam pemikiran yang lebih tinggi, dan bernalar dengan cermat
Mengenai Penyediaan, Pengetahuan Kedepan, Kehendak dan Takdir,
Takdir yang ditetapkan, kehendak bebas, pengetahuan kedepan yang mutlak, [ 560 ]
Dan tidak menemukan ujung, tersesat dalam lorong lorong kesana kemari.
Tentang baik dan jahat mereka banyak berbantah,
Tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akhir,
Gairah dan Ketidakpedulian, dan kemuliaan dan kehinaan,
Semuanya kata kata kosong dan sia sia, dan Kebijakan palsu: [ 565 ]
Namun dengan sihir menawan bisa mempesonakan
Rasa sakit untuk sementara ataupun kecemasan, dan membangkitkan
Harapan palsu, atau mempersenjatai hati yang dikeraskan
Dengan kesabaran tanpa menyerah seperti dengan baja berlapis tiga.
Bagian lainnya dalam Squadron dan Kumpulan Kumpulan banyak, [ 570 ]
Dalam pertualangan penuh tantangan untuk menjelajahi seluruh
Dunia yang buruk itu, jika mungkin ada Cuaca
Yang lebih bisa mereka tinggali, mengarahkan
Ke empat penjuru Barisan terbang mereka, di sepanjang Batas Batas
Keempat Sungai Neraka yang mengalirkan keluar [ 575 ]
Ke Lautan Api aliran aliran jahat mereka;
Styx yang dibenci yang merupakan banjir kebencian mematikan,
Acheron penuh kesedihan dan duka, hitam dan dalam;
Cocytus, dinamakan karena ratapan kerasnya
Yang terdengar oleh aliran menyedihkannya; Phlegeton yang ganas [ 580 ]
Yang gelombang gelombang apinya mengalir menyala nyala dengan amuk.
Jauh dari ketiganya ini sebuah aliran sungai yang perlahan dan sunyi,
Lethe Sungai Kelupaan mengalirkan
Labirin berairnya, yang jikalau ada yang meminum darinya,
Segera keadaan diri sebelumnya dan sekarang dilupakannya, [ 585 ]
Ia lupakan baik sukacita maupun dukacita, kesenangan maupun kesakitan.
Dibalik sungai ini sebuah Benua yang membeku
Terbentang gelap dan liar, diaduk aduk oleh badai terus menerus
Puting Beliung dan Hujan Api dan Es mengerikan, yang di tanah kerasnya
Tidak menjadi beku, namun menumpuk, dan tampak bagai robohan [ 590 ]
Reruntuhan kuno; sisanya adalah salju dan es sedalam dalamnya,
Sebuah teluk dalam bagaikan Rawa Serbonia itu
Diantara Damiata dan Gunung Casius yang tua,
Dimana banyak Pasukan pernah tenggelam: Udara keringnya
Membakar beku, dan dingin membakar bagaikan Api. [ 595 ]
Disana oleh Furi Furi berkaki Harpi dihalaukan,
Pada putaran tertentu seluruh mereka yang terkutuk
Dibawa: dan bergiliran merasakan perubahan pahit
Panas yang amat sangat ke Dingin yang ganas, lebih ganas lagi karena perubahannya,
Dari Lapisan Api ganas berpindah ke Es sehingga mematikan [ 600 ]
Kehangatan Sorgawi mereka yang lembut, dan disana kesakitan
Tanpa bisa bergerak, terpaku dan beku seluruhnya,
Untuk beberapa saat, lalu cepat cepat dilemparkan lagi ke api.
Mereka menyeberangi Kesunyian Lethe tersebut
Kesana dan kemari, duka mereka bertambah tambah, [ 605 ]
Dan keinginan dan perjuangan, setiap kali mereka melewati, untuk mencapai
Aliran yang menggoda itu, dengan setetes kecil saja untuk melupakan
Dalam kelupaan menyenangkan seluruh kesakitan dan sengsara,
Semuanya hilang dalam sesaat saja, dan begitu dekat ke tepinya;
Namun takdir menghadang, dan untuk melawan usaha mereka [ 610 ]
Medusa dengan kengerian Gorgon menjaga
Tepi Sungai, dan air itu sendirinya menghindari
Kecapan mahluk hidup, sebagaimana ia pernah menghindari
Bibir Tantalus. Demikian mereka terus berkelana
Dalam barisan kebingungan dan suram, Kumpulan Kumpulan petualang itu [ 615 ]
Pucat oleh kengerian yang menggetarkan, dan dengan mata mata terkaget kaget
Memandang bagian yang penuh ratap bagi mereka, dan menemukan
Tiada perhentian bagi mereka: melalui banyak Lembah gelap dan muram
Mereka lewati, dan banyak Daerah penuh sengsara,
Melalui banyak Puncak membeku, banyak Puncak berapi api, [ 620 ]
Bebatuan, Gua, Danau, Hutan, Rawa Rawa, Sarang, dan bayang bayang kematian,
Sebuah Alam kematian, yang terkutuk oleh Allah
DiciptakanNya jahat, yang hanya baik untuk kejahatan,
Dimana semua kehidupan mati, kematian hidup, dan Alam membuahkan,
Dengan menyimpang, semua benda mengerikan, semua hal hal mencekam, [ 625 ]
Hal hal keji, tak terucapkan, dan lebih buruk
Dari yang diceritakan Dongeng yang belum ada, atau yang dibayangkan ketakutan,
Kengerian Gorgon dan Hydra, dan Chimera.
Sementara itu Musuh Allah dan Manusia,
Setan dengan pikiran yang menyala nyala dengan rancangan rancangan agung, [ 630 ]
Terbang secepat cepatnya, dan menuju Gerbang Gerbang Neraka
Menjalani jalannya sendirian; terkadang
Ia menjelajahi sisi kanan, kadang kadang sisi kiri,
Ia mengarungi dengan sayap sayap teguh seluruh Jurang Dalam, lalu terbang naik
Menaiki Cembungan berapi tinggi di atas. [ 635 ]
Seperti ketika jauh di Lautan sebuah Pasukan laut terlihat
Dihembuskan oleh Awan, oleh Angin Equinox
Yang berlayar rapat dari Bengala, atau dari Kepulauan
Ternate dan Tidore, darimana Para Saudagar membawa
Obat Obatan rempah mereka: mereka melalui Jalur Perdagangan Laut [ 640 ]
Melalui laut Ethiopia yang luas menuju ke Tanjung
Mengayuh bergerak setiap malam menuju ke Kutub. Demikian tampaknya
Dari jauh sang Penjahat yang sedang terbang: akhirnya tampak
Tertancap ke dasar Neraka tinggi mencapai ke Atap mengerikan,
Dan tiga kali tiga Gerbang Gerbang tersebut; tiga lapis Tembaga, [ 645 ]
Tiga lapis Besi, tiga lapis Batu Sekeras Berlian,
Tak mungkin ditembus, diselimuti api di sekelilingnya,
Namun tidak terbakar sama sekali. Dihadapan Gerbang Gerbang itu duduk
Di kedua sisi wujud wujud berbahaya;
Yang satu tampak bagai Wanita sampai ke pinggang, dan indah, [ 650 ]
Namun berujung mengerikan dalam lipatan bersisik
Berkilat dan besar, bagai Ular dipersenjatai
Dengan sengatan mematikan: di sekeliling bagian tengahnya
Lengkingan Anjing Anjing Neraka tak pernah berhenti menggonggong
Dengan moncong moncong bagai Cerberus keras, dan memekikkan [ 655 ]
Lengkingan mengerikan: namun, ketika mereka mundur, mereka merayap,
Jika ada yang mengganggu ribut mereka, ke dalam rahimnya,
Dan berkandang disana, namun disana masih tetap menggonggong dan melolong
Di dalam tanpa terlihat. Jauh lebih tidak mengerikan dari mahluk mahluk ini
Scylla mengamuk terendam di Laut yang memisahkan [ 660 ]
Calabria dari pantai Trinacrian yang keras:
Tidak lebih jelek juga Sang Penyihir Malam, ketika dipanggil
Secara rahasia, ia datang mengendarai udara
Terpancing oleh bau darah bayi, untuk menari
Dengan Penyihir Penyihir Lapland, sementara Bulan yang meredup [ 665 ]
Lenyap oleh sihir mereka. Wujud lainnya,
Jika bisa disebut berwujud yang bagaikan tak berbentuk sama sekali
Tidak bisa dibedakan dimana anggota tubuh, sendi, atau kaki dan tangan,
Atau zatnya mungkin bisa disebut sebagai bayangan,
Sebab bukan seperti yang satu atau lainnya; ia berdiri hitam bagai Malam, [ 670 ]
Ganas bagai sepuluh Furi, mengerikan bagai Neraka,
Dan menggenggam sebilah Anak Panah mengerikan; apa yang tampak sebagai kepala
Sesuatu yang mirip sebuah Mahkota Kerajaan ada di atasnya.
Setan sekarang mendekat, dan dari tempat duduknya
Sang Monster pun bergerak maju sama cepatnya [ 675 ]
Dengan langkah langkah mengerikan, Neraka bergoncang saat ia melangkah.
Sang Penjahat tanpa takut bertanya tanya hal apa gerangan yang mengherankannya,
Ia merasa heran, bukan takut; kecuali pada Allah dan AnakNya,
Benda yang diciptakan tidak dihargainya atau dijauhinya
Dan dengan pandangan merendahkan memulai terlebih dahulu. [ 680 ]
Darimana dan apakah engkau ini, wujud menjijikkan,
Yang berani, walau menakutkan dan mengerikan, memajukan
Wajahmu yang salah diciptakan ke arahku
Menuju Gerbang Gerbang disana? Aku bermaksud melewati mereka,
Akan hal itu engkau boleh yakin, aku tidak perlu meminta izinmu: [ 685 ]
Mundur, atau kecap hasil kebodohanmu, dan belajar dari hasilnya,
Mahluk Neraka, untuk tidak beradu dengan Roh Roh Sorga.
Kepadanya sang Dedemit penuh murka menjawab,
Engkaukah Malaikat Pengkhianat itu, engkaukah ia,
Yang pertama kali melanggar damai di Sorga dan Iman, yang hingga saat itu [ 690 ]
Tak pernah dilanggar, dan dengan Pasukan Pasukan memberontak yang angkuh
Menarik ke sisinya sepertiga Anak Anak Allah
Yang dibujuknya melawan Yang Mahatinggi, yang karenanya engkau
Dan mereka dikucilkan dari Allah, disini terkutuk
Menghabiskan hari hari Tanpa Akhir dalam celaka dan kesakitan? [ 695 ]
Dan engkau menghitung dirimu dalam bilangan Roh Roh Sorga,
Yang ditetapkan di Neraka, dan menghembuskan perlawanan dan cemooh disini
Dimana aku memerintah sebagai Raja, dan untuk lebih membuat engkau marah lagi,
Akulah Raja dan Tuanmu? Kembali ke penghukumanmu,
Buronan palsu, dan percepat dengan sayap sayapmu, [ 700 ]
Agar jangan dengan cambuk Kalajengking aku mengejar
Engkau gemetar, atau dengan satu hajaran Anak Panah ini
Kengerian asing membelenggu engkau, dan degupan yang tak pernah kau rasakan.
Demikian berbicara kengerian menakutkan itu, dan dalam wujud,
Sambil berbicara dan mengancam, menjadi sepuluh kali lipat [ 705 ]
Lebih mengerikan dan buruk: di sisi lain
Menyala nyala dengan kemarahan Setan berdiri
Tanpa takut, dan bagai sebuah Bintang Berekor terbakar,
Yang membakar sepanjang Ophiucus yang besar
Di Langit Kutub Utara, dan dari rambut mengerikannya [ 710 ]
Digoncang Sampar dan Perang. Masing masing ke kepala lawannya
Diarahkan sasaran mematikannya; tangan tangan mematikan mereka
Tidak mengharapkan hajaran kedua kali, dan dengan kerutan wajah sedemikian
Mereka saling melihat, seperti ketika dua Awan hitam
Yang dipenuhi Peluru Sorgawi, datang bergemuruh [ 715 ]
Di atas Laut Kaspia, saat itu berdiri saling berhadapan
Melayang layang di udara, hingga sebagai tanda Angin berhembus
Untuk bergabung dengan Tabrakan gelap mereka di tengah udara:
Demikian mengerutkan wajah kedua Petempur perkasa tersebut, sehingga Neraka
Menjadi lebih gelap karena kerutan wajah mereka, begitu saling mengimbangi; [ 720 ]
Sebab tidak akan pernah namun hanya sekali lagi masing masing
Akan bertemu Seteru yang demikian hebat: dan sekarang perbuatan perbuatan besar
Akan sudah dilakukan, seluruh Neraka berguncang,
Jikalau tidak Sang Ular Penyihir yang duduk
Dekat Gerbang Neraka, yang menyimpan Kunci takdir, [ 725 ]
Bangkit, dan dengan seruan mengerikan bergegas diantara mereka.
Oh Bapa, hendak apa tanganmu, jeritnya,
Melawan Anakmu yang tunggal? Amuk apa, oh Anakku,
Yang merasukmu sehingga engkau mengarahkan Anak Panah mematikan itu
Ke arah kepala Bapamu? Dan ketahuilah karena siapa; [ 730 ]
Karena Dia yang duduk diatas dan tertawa sementara
Kepadamu ditetapkan dendamNya, untuk melaksanakan
MurkaNya, yang disebutNya Keadilan, dengarkan aku,
MurkaNya suatu hari akan menghancurkan kalian berdua.
Ia berbicara, dan oleh kata katanya Sampar neraka itu [ 735 ]
Menahan diri, lalu Setan membalas kata kata ini kepadanya:
Sungguh aneh jeritanmu, dan kata katamu begitu aneh
Yang engkau ucapkan, sehingga tanganku tiba tiba
Dicegah tertahan dari menunjukkan padamu perbuatan apa
Yang hendak dilakukannya; ini pertama kalinya aku mengenalmu, [ 740 ]
Benda apakah engkau ini, yang berbentuk ganda, dan mengapa
Di Lembah neraka ini pertama kali bertemu engkau memanggil
Aku Bapa, dan Bayangan itu engkau sebut sebagai Anakku?
Aku tidak mengenalmu, tidak juga pernah kulihat sampai sekarang
Pemandangan yang lebih menjijikkan daripada ia dan engkau. [ 745 ]
Kepadanya sang Penjaga Gerbang Neraka menjawab;
Apakah engkau sudah melupakanku, dan apakah aku tampak
Sekarang di matamu begitu jijik, yang dulu tampak begitu indah
Di Sorga, ketika di Sidang, dan di depan mata
Seluruh Serafim yang besertamu [ 750 ]
Dalam persekongkolan lantang melawan Raja Sorga,
Tiba tiba sebuah kesakitan menyengsarakan
Mengejutkanmu, memudarkan matamu, dan dengan pusing tenggelam
Dalam kegelapan, sementara kepalamu berapi api tebal dan deras
Tercurah, hingga dari sisi kiri terbuka lebar, [ 755 ]
Seperti engkau dalam bentuk dan wajah cemerlang,
Waktu itu aku memancarkan keindahan Sorgawi, bagai Dewi yang dipersenjatai
Dari dalam kepalamu aku muncul keluar; keheranan menawan
Seluruh Balatentara Sorga sehingga mereka menyusut mundur dan takut
Pada mulanya, dan menamakanku Dosa, dan sebagai sebuah Tanda [ 760 ]
Yang membawa bencana aku dianggap; namun setelah mengenal,
Aku menyenangkan, dan dengan keanggunan menarik memenangkan
Bahkan yang paling memusuhi sekalipun, engkau terutama, yang seringkali
Dirimu dalam diriku terlihat sebagai gambar dan rupamu yang sempurna
Engkau mencintaku, dan sukacita yang amat sangat engkau lakukan [ 765 ]
Denganku secara rahasia, sehingga rahimku mengandung
Beban yang makin bertumbuh. Sementara itu Perang bangkit,
Dan medan medan pertempuran diperebutkan di Sorga; sehingga jatuh
(sebab bisa bagaimana lagi) ke Seteru Mahakuasa kita
Kemenangan sejelas jelasnya, bagi kita kekalahan dan kehancuran [ 770 ]
Melalui seluruh Sorga Tertinggi: kebawah mereka jatuh
Dilemparkan kepala lebih dahulu dari Ketinggian Sorga, ke bawah
Ke dalam Jurang Dalam ini, dan dalam kejatuhan bersama
Aku juga jatuh; pada saat itu Kunci penuh kuasa ini
Kedalam tanganku diberikan, dengan perintah untuk menjaga [ 755 ]
Agar Gerbang ini selamanya tertutup, yang tidak seorangpun bisa melewatinya
Tanpa aku membukanya. Dengan diam menunggu aku duduk disini
Sendirian, namun aku tidak lama duduk, hingga rahimku
Yang mengandung olehmu, dan saat itu membesar amat sangat
Merasakan gerakan menakutkan dan detak detak menyengsarakan. [ 780 ]
Akhirnya keturunanmu yang kejam yang engkau lihat ini
Yang engkau peranakkan, memaksakan jalan keluar dengan kekerasan
Merobek melalui perutku, sehingga dengan ketakutan dan kesakitan
Berubah bentuk, seluruh wujud bawahku menjadi
Diubah: namun ia musuhku yang kukandung [ 785 ]
Muncul keluar, menggenggam Anak Panah mematikannya
Yang dibuat untuk menghancurkan: aku melarikan diri, dan meneriakkan Maut;
Neraka berguncang karena Nama mengerikan itu, dan berkesah
Dari seluruh Gua Guanya, dan menjawab kembali Maut.
Aku melarikan diri, namun ia mengejar (walaupun lebih, tampaknya, [ 790 ]
Terbakar oleh nafsu daripada amuk) dan jauh lebih cepat,
Aku ibunya yang enggan ditangkapnya untuk ditidurinya,
Dan dengan pelukan memaksa dan keji
Dibuahinya didalam diriku, dari pemerkosaan itu diperanakkan
Monster monster yang berteriak ini yang dengan jeritan jeritan tanpa henti [ 795 ]
Mengelilingiku, seperti yang engkau lihat, yang tiap saat kukandung
Dan tiap saat kulahirkan, dengan duka tanpa akhir
Bagiku, sebab ketika mereka masuk ke dalam rahim
Yang telah melahirkan mereka dimasuki oleh mereka, dan melobangi dan mengunyah
Perutku, perbuatan mereka di saat senggang; lalu melompat keluar [ 800 ]
Dengan segar dan dengan kengerian kengerian yang nyata mengusik aku di sekeliling,
Sehingga perhentian atau istirahat tidak bisa kudapatkan.
Di depan mataku dalam perlawanan duduk
Maut yang menakutkan Anak dan seteruku, yang meletakkan mereka,
Dan aku orangtuanya akan segera ditelannya [ 805 ]
Karena kekurangan mangsa lain, namun karena ia tahu
Nasibnya denganku saling terkait; dan tahu bahwa aku
Akan merupakan Makanan yang pahit baginya, dan beban ketakutannya,
Kapanpun itu akan terjadi; demikian Takdir telah menyatakannya.
Namun engkau Oh Bapa, aku memperingatkanmu, jauhi [ 810 ]
Panah mematikannya; jangan juga berharap sia sia
Engkau akan tak terkalahkan karena Senjata Senjata benderangmu,
Walau ditempa dengan Api Sorgawi, sebab hajaran mematikan itu,
Selain Dia yang memerintah diatas, tidak ada yang bisa menahannya.
Ia menyelesaikan ceritanya, dan sang Penjahat licik akan ceritanya sendiri [ 815 ]
Segera diketahuinya, sekarang dengan lebih lembut, dan dijawabnya dengan lancar.
Putri tersayang, sebab engkau memanggilku Bapa,
Dan telah menunjukkan padaku Anakku yang indah, karena ikatan tersayang
Penyatuan denganmu di Sorga, dan sukacita
Saat itu manis, saat ini sedih untuk diucapkan, oleh perubahan mengerikan [ 820 ]
Yang menimpa kita tanpa bisa diketahui sebelumnya, tak terpikirkan, ketahuilah
Aku datang bukan sebagai musuh, namun untuk membebaskan
Keluar dari rumah kesakitan yang gelap dan buruk ini,
Baik ia maupun engkau, dan seluruh Balatentara sorgawi
Para Roh yang dalam tuntutan keadilan kami dipersenjatai [ 825 ]
Jatuh bersama dengan kita dari ketinggian: dari mereka aku pergi
Menjalani tugas tak dikenal ini sendirian, dan satu untuk semua
Diriku kusodorkan, dengan langkah langkah sendirian untuk menjalani
Jurang dalam tanpa dasar, dan melalui kekosongan yang amat luas
Untuk mencari dalam pencarian kelana tempat yang diberitakan sebelumnya [ 830 ]
Dimana adanya, dan, oleh tanda tanda yang terus tampak, sebelumnya
Diciptakan luas dan melingkar, sebuah tempat kebahagiaan
Di dalam Batas Batas Sorga, dan disana ditempatkan
Sebangsa Mahluk baru, untuk mengisi
Mungkin tempat kosong kami, walau lebih jauh sekalipun, [ 835 ]
Agar jangan Sorga yang dipenuhi sejumlah besar yang amat sangat
Mungkin mengalami kegaduhan baru lagi: Apakah hal ini atau apapun juga
Yang lebih rahasia daripada ini yang dirancangkan, aku bergegas
Untuk mengetahui, dan setelah kuketahui, akan segera kembali,
Dan membawa kalian ke tempat dimana engkau dan Maut [ 840 ]
Akan berdiam dengan tenang, dan naik turun tanpa terlihat
Melayangi dengan senyap Udara yang ringan, yang diharumkan
Dengan bau bau wangi; disana kalian akan diberi makan dan dipuaskan
Tanpa batas, segala sesuatu akan menjadi mangsa kalian.
Ia selesai, sebab mereka berdua tampaknya amat senang, dan Maut [ 845 ]
Menyeringai dengan mengerikan sebuah senyum menakutkan, sebab didengarnya
Bahwa kelaparannya akan segera dipuaskan, dan memberkati rahangnya
Yang ditakdirkan untuk saat baik itu: tidak kurang bersukacitanya
Ibunya yang jahat, dan demikian katanya kepada Bapanya.
Kunci Lobang neraka ini atas hak, [ 850 ]
Dan oleh perintah Raja Sorga yang Mahakuasa
Aku menyimpannya, olehnya aku dilarang membuka
Gerbang Gerbang Sekeras Berlian itu; melawan segala kekuatan
Maut berdiri siap untuk menghadang dengan anak panahnya,
Tanpa takut bisa tertandingi oleh keperkasaan mahluk hidup. [ 855 ]
Namun aku berhutang apa pada perintah Dia yang diatas
Yang membenciku, dan telah melemparkan aku ke bawah sini
Ke dalam kesuraman Tartarus yang dalam,
Untuk duduk dalam Pelayanan yang kubenci disini tertahan,
Penghuni Sorga, dan yang lahir di sorga, [ 860 ]
Disini dalam sengsara dan kesakitan terus menerus,
Dengan kengerian dan kegaduhan di sekeliling
Yang adalah turunan turunanku sendiri, yang memakan perutku sendiri:
Engkau Bapaku, engkau Penciptaku, engkau
Telah memberiku keberadaanku; siapa yang seharusnya kupatuhi [ 865 ]
Kecuali engkau, siapa yang harus kuikuti? Engkau akan segera membawaku
Ke dunia baru penuh terang dan kebahagiaan itu, diantara
Para illah yang hidup tenang, dimana aku akan Memerintah
Di sebelah kananmu dengan anggun, sebagaimana baiknya bagi
Putrimu dan kesayanganmu, tanpa akhir. [ 870 ]
Sambil demikian berkata, dari sisinya Kunci takdir itu,
Alat sengsara segala celaka kita, diambil olehnya;
Dan menuju Gerbang ia bergerak merayap bagai hewan,
Segera Gerbang Luar yang besar itu ditariknya keatas,
Yang jikalau bukan olehnya tidak seluruh kuasa kuasa Stygia [ 875 ]
Bisa memindahkannya sekaliguspun; lalu kedalam lubang kunci diputarnya
Gerigi gerigi kunci yang rumit, dan tiap Gigi dan Rintang
Dari Besi berat atau Batu padat dengan mudah
Dilepaskannya: tiba tiba terbuka bergerak
Dengan lontaran kuat dan suara ribut [ 880 ]
Pintu pintu neraka, dan pada sumbu sumbu mereka berderit
Petir yang ribut, sehingga dasar terbawah berguncang
Hingga ke Erebus sekalipun. Ia membukanya, namun untuk menutup
Melebihi kekuatannya; Gerbang Gerbang tersebut terbuka lebar,
Sehingga dengan sayap sayap terbentang Balatentara Berpanji Panji [ 885 ]
Di bawah Bendera berkibar yang berbaris bisa bergerak lewat
Dengan Kuda dan Kereta Kereta Berkuda dalam susunan yang longgar;
Begitu lebarnya mereka terbuka, dan bagai mulut Perapian
Menyemburkan asap yang semakin menebal dan nyala api merah.
Di depan mata mereka tiba tiba tampak seluruh [ 890 ]
Rahasia rahasia jurang dalam penuh topan, sebuah kegelapan
Lautan Tak Terbatas tanpa batasan,
Tanpa ukuran, dimana panjang, lebar, dan tinggi,
Dan waktu dan tempat tidak ada; dimana Malam tertua
Dan Kekacauan, Para Nenek Moyang Dunia Alam, menjalankan [ 895 ]
Kekacauan abadi, diantara kegaduhan
Perang tanpa akhir, dan penuh dengan segala kebingungan.
Sebab panas, dingin, lembab, dan kering, empat Juara ganas
Berjuang disana demi Kekuasaan, dan kedalam Pertempuran membawa
Atom Atom terkecil mereka; di sekeliling bendera [ 900 ]
Tiap tiap pihak mereka, dalam beberapa Suku Suku mereka,
Dipersenjatai dengan ringan atau berat, tajam, lembut, cepat atau lambat,
Bergerombol amat banyak, tak terhitung jumlahnya bagaikan Pasir
Di tanah kering Barca atau Cyrene,
Yang ditentukan untuk berpihak kepada Angin yang beradu, dan mengarahkan [ 905 ]
Sayap sayap ringan mereka. Kepada yang mana angin angin tersebut lebih memihak,
Ia memerintah sesaat; Kekacauan Sang Wasit duduk,
Dan oleh keputusannya lebih membingungkan kegaduhan tersebut
Yang olehnya ia Memerintah: setelah ia Pengadil agung
Peluang memerintah atas semuanya. Kedalam Jurang Dalam liar ini, [ 910 ]
Rahim alam dan mungkin Makamnya,
Yang bukan merupakan Laut, bukan Pantai, bukan Udara, bukan Api,
Namun semua sekaligus dalam keadaan matang bercampur
Penuh kebingungan, dan yang harus selamanya bertarung,
Kecuali Sang Pencipta Mahakuasa menetapkan mereka [ 915 ]
Sebagai bahan bahan gelapNya untuk menciptakan lebih banyak Dunia,
Kedalam Jurang Dalam liar ini sang penjahat yang capai
Berdiri di ujung Neraka dan melihat sebentar,
Sambil memikirkan Perjalanannya: sebab bukan penyeberangan sempit
Yang harus diseberanginya. Tidak juga telinganya lebih kurang ditulikan [ 920 ]
Dengan kegaduhan suara keras dan nyata (untuk membandingkan
Hal hal besar dengan yang kecil) seperti ketika Bellona menyerbu,
Dengan seluruh Peralatan gempurnya untuk menghancurkan
Suatu Ibukota; atau lebih kurang dari itu jikalau rangka
Sorga runtuh, dan seluruh Zat Dasar [ 925 ]
Dalam pemberontakan dari Sumbunya mengoyakkan
Bumi yang kokoh. Akhirnya Sayap Sayapnya yang lebar bagai Layar
Dibentangkannya untuk terbang, dan dalam asap yang membumbung
Terangkat jauh diatas tanah, dari sana banyak Liga
Bagai duduk diatas Kursi awan naik berkendara [ 930 ]
Dengan lantang, namun tempat duduk itu segera jatuh, karena bertemu
Dengan kekosongan yang amat luas: sepenuhnya tanpa disadarinya
Segera dikepakkan sayapnya dengan sia sia menukik ke bawah ia jatuh
Sedalam selaksa kedalaman, dan hingga saat ini
Jatuh sedalam dalamnya, jika tidak karena peluang buruk [ 935 ]
Hembusan kuat awan yang bergolak
Yang dirasuk Api dan Nitro melayangkannya dengan cepat
Jauh bermil mil jaraknya: akhirnya amuk itu berhenti,
Terpadamkan di dalam Rawa bagai Syrtis, yang bukan Laut,
Atau Tanah kering yang kokoh: hampir terseok seok ia meneruskan, [ 940 ]
Melangkahi kepadatan kasar itu, setengah berjalan,
Setengah terbang; Baik Dayung maupun Layar digunakannya.
Seperti ketika seekor Grifon melalui Padang Belantara
Menjalani jalur terbang diatas Bukit atau Lembah berkabut,
Mengejar Orang Orang Arimaspia, yang dengan menyelinap [ 945 ]
Telah meminjam melalui penjagaan ketatnya
Emas yang dijaganya: Begitu inginnya sang penjahat
Melalui rawa atau jurang, melalui jalan mulus, kasar, padat, atau rapuh,
Dengan kepala, tangan, sayap, atau kaki bergegas di jalurnya,
Dan berenang atau tenggelam, atau mengapung, atau merayap, atau terbang: [ 950 ]
Akhirnya tampak sebuah pusat alam semesta yang liar
Penuh keributan mengagetkan and suara suara membingungkan
Yang terbawa melalui kegelapan hampa menyerang pendengarannya
Dengan kekerasan paling ribut: kesana ia melangkah,
Tanpa takut bertemu disana kuasa apapun [ 955 ]
Atau Roh Jurang Dalam yang terbawah
Yang mungkin berdiam didalam keributan itu, yang kepada siapa ia bisa bertanya
Arah mana terletak batas kegelapan terdekat
Yang berbatasan dengan terang; ketika didepannya tampak Tahta
Kekacauan, dan Ruang gelapnya terbentang [ 960 ]
Lebar di Jurang Dalam penuh kehancuran; bersamanya Bertahta
Malam yang berjubahkan Sable, yang tertua diantara segala sesuatu,
Pendamping Pemerintahannya; dan dekat mereka berdiri
Orcus dan Ades, dan nama yang ditakuti
Demogorgon; Kabar Angin berikutnya dan Peluang, [ 965 ]
Dan Keributan dan Kebingungan saling berlilitan,
Dan Perpecahan dengan seribu bermacam macam mulut.
Kepada mereka Setan berkata dengan lantang, demikian. Kalian Kuasa Kuasa
Dan Roh Roh Jurang Dalam terbawah ini,
Kekacauan dan Malam Kuno, aku datang bukan sebagai mata mata, [ 970 ]
Dengan tujuan menjelajahi atau megusik
Rahasia rahasia Duniamu, namun karena keharusan
Berkelana di Padang Pasir gelap ini, sebab perjalananku
Melewati Kemaharajaanmu yang luas naik menuju terang,
Sendirian, dan tanpa pembimbing, setengah tersesat, aku mencari [ 975 ]
Jalan paling lancar mana yang menuju batas batas suram daerah kalian
Yang berbatasan dengan Sorga; atau jika ada tempat lain
Yang direbut dari Kekuasaanmu, Sang Raja Sorgawi
Baru baru ini memilikinya, untuk sampai kesana
Aku mengarungi kedalaman ini, arahkanlah jalanku; [ 980 ]
Yang diarahkan akan membawa ganti yang tidak kecil
Untuk kalian, jika aku kehilangan Daerah itu,
Segala penyusupan diusir dari sana, akan dimusnahkan
Kembali ke kegelapan semula dan pihak kalian
(Yang adalah tujuanku sekarang) dan sekali lagi [ 985 ]
Menegakkan Panji Malam Kuno;
Untuk kalian segala keuntungan, bagiku pembalasan dendam.
Demikian kata Setan; dan kepadanya demikian sang Kekacauan tua
Dengan ucapan ucapan memudar dan wajah tak tersusun
Menjawab. Aku tahu engkau, orang asing, siapa engkau ini, [ 990 ]
Sang Malaikat perkasa yang memimpin, yang baru baru ini
Bertempur melawan Sang Raja Sorga, walau dilemparkan.
Aku melihat dan mendengarnya, sebab Balatentara yang sedemikian banyaknya
Tidak melarikan diri dengan sunyi melalui jurang dalam yang tergoncang
Dengan keruntuhan demi keruntuhan, kehancuran demi kehancuran, [ 995 ]
Yang membuat Kebingungan lebih dibingungkan lagi; dan Gerbang Gerbang Sorga
Menumpahkan berjuta juta Kumpulan Kumpulan penuh kemenangan
Yang mengejar. Aku di Daerah Daerah Perbatasanku disini
Berdiam tinggal; semua yang bisa kulakukan akan kubantu,
Apa yang sedikit tertinggal untuk dipertahankan [ 1000 ]
Yang terus mendekati melalui kekacauan dalam kami
Dan melemahkan Kekuasaan Malam tua: pertama tama Neraka
Penjara bawah tanahmu terbentang jauh dan luas dibawah;
Sekarang baru baru ini Langit dan Bumi, sebuah Dunia lain
Bergantung diatas Duniaku, tergantung oleh sebuah Rantai emas [ 1005 ]
Ke sisi sana adalah Sorga darimana Legion Legionmu jatuh:
Jika ke arah sana perjalananmu, engkau tidak jauh lagi;
Yang merupakan bahaya yang lebih dekat; pergi dan bergegaslah;
Kehancuran dan kerusakan dan keruntuhan adalah keuntungan bagiku.
Ia selesai; dan Setan tidak tinggal lebih lama untuk menjawab, [ 1010 ]
Namun merasa senang bahwa Lautnya akan segera menemukan pantai,
Dengan kesegaran baru dan kekuatan diperbaharui
Terbang keatas bagaikan sebuah Limas api
Menuju ruang luas yang liar diatas, dan melalui gempuran
Zat Zat Dasar yang bertempur, di seluruh sisi sekeliling [ 1015 ]
Ditempuhnya untuk terus maju; kesulitan lebih menghadang
Dan lebih membahayakan, daripada ketika Argo melewati
Bosporus diantara Bebatuan yang menjulang:
Atau ketika Ulysses dalam Pelayarannya menjauhi
Charybdis, dan diarahkan oleh pusaran air yang lain. [ 1020 ]
Demikian juga ia dengan kesulitan dan usaha keras
Terus bergerak, dengan kesulitan dan penuh usaha dilakukannya;
Namun segera setelah ia lewat, segera setelah manusia akan jatuh,
Perubahan aneh! Dosa dan Maut bersama
Mengikuti jejaknya, demikianlah kehendak Sorga, [ 1025 ]
Mereka membangun dibelakangnya sebuah jalan yang lebar dan mulus
Diatas Jurang Dalam yang gelap, yang Teluk mendidihnya
Bersedia dibangun sebuah Jembatan yang amat panjang
Yang dari Neraka terus mencapai Lingkar terluar
Dunia yang rapuh ini; yang dengannya Roh Roh sesat [ 1030 ]
Dengan perjalanan mudah lewat kesana dan kesini
Untuk mencobai atau menghukum manusia, kecuali mereka yang oleh
Allah dan Para Malaikat baik dijaga karena karunia khusus.
Namun saat itu akhirnya binar suci
Cahaya tampak padanya, dan dari tembok tembok Sorga [ 1035 ]
Dipancarkan jauh hingga ke pangkuan Malam yang suram
Sebagai ufuk yang gemilang; disini Alam pertama memulai
Ujung terjauhnya, dan Kekacauan mengundurkan diri
Seolah olah dari pengaruh alam paling jauh sebagai seteru yang diremukkan
Dengan lebih sedikit keributan dan kegaduhan melawan, [ 1040 ]
Sehingga Setan dengan lebih sedikit berusaha, dan sekarang dengan mudah
Mengawang di gelombang yang lebih tenang oleh cahaya lembut
Dan bagaikan Perahu yang terombang ambing memandang
Dengan senang Pelabuhan didepan, dengan Layar dan Tiang yang terkoyak;
Atau di belantara kosong, bagaikan Udara, [ 1045 ]
Begitu ringannya sayap sayapnya yang terbentang, dengan santai memandang
Jauh disana Sorga Tertingi, terbentang luas
Dalam lintas, tanpa bisa diketahui apakah mengkotak atau melingkar
Dengan Menara Menara Opal dan Benteng Benteng dihiasi
Dengan Zamrud yang hidup, dulunya Tempat Asalnya; [ 1050 ]
Dan dekat disana bergantung di sebuah Rantai emas
Alam semesta ini, dalam ukuran bagaikan sebuah Bintang
Yang Terkecil dekat Bulan.
Kesana dengan dipenuhi pembalasan dendam yang jahat,
Dan terkutuk, dan pada saat terkutuk itu ia mengarahkan jalannya. [ 1055 ]

Akhir Buku Kedua.

Paradise Lost - Buku Pertama

Paradise Lost - Terjemahan oleh Adot
BUKU 1
PENGANTAR

Buku pertama ini mengajukan, mula mula dengan singkat, seluruh Pokok Bahasan, ketidakpatuhan Manusia, dan karenanya hilangnya Taman Firdaus dimana ia ditempatkan: Lalu menyinggung penyebab utama kejatuhannya, Sang Ular, atau tepatnya Setan di dalam Sang Ular; yang memberontak dari Allah, dan menarik ke sisinya banyak Legion Legion Malaikat, atas perintah Allah diusir keluar dari Sorga dengan seluruh Anggotanya ke dalam Jurang Dalam yang besar. Hal mana yang telah terjadi, Syair ini telah dari tengah kejadian, mempertontonkan Setan dengan Malaikat Malaikatnya sekarang jatuh dalam Neraka, digambarkan disini, bukan di Tengah Alam Semesta (sebab Langit dan Bumi boleh diduga belum diciptakan, jelas belum terkutuk) namun di sebuah tempat kegelapan yang amat sangat, paling cocok dinamai Kekacauan: Disini Setan dengan Malaikat Malaikatnya berbaring di Lautan Api, terhajar Petir dan tercengang cengang, setelah suatu masa tertentu pulih, seolah olah dari sebuah kebingungan, memanggil naik ia yang terbesar sesudahnya dalam Kedudukan dan Martabat yang berbaring di sisinya; mereka berunding mengenai kejatuhan mereka yang menyengsarakan. Setan membangunkan seluruh Legion Legionnya, yang sampai saat itu berbaring terperangah dalam keadaan yang sama; Mereka bangkit, Jumlah mereka, susunan Perang, Pemimpin Pemimpin mereka yang terkemuka disebutkan, sama dengan Berhala Berhala yang dikenal di kemudian hari di Kanaan dan Negeri Negeri yang bersebelahan. Kepada mereka ini Setan menujukan Kata Katanya, menghibur mereka dengan harapan masih bisa mendapatkan Sorga kembali, namun akhirnya memberitahukan kepada mereka mengenai sebuah Dunia baru dan Mahluk baru yang akan diciptakan, menurut sebuah Nubuat atau berita kuno di Sorga; sebab bahwa para Malaikat telah lama ada sebelum Ciptaan yang kelihatan ini, adalah pendapat banyak Bapa Bapa Gereja yang mula mula. Untuk mencari kebenaran Nubuat ini, dan hal apa yang akan diputuskan atas ini ia mengajukan suatu Sidang Tertinggi. Apa yang Rekan Rekannya kemudian usahakan. Pandemonium Istana Setan muncul, tiba tiba dibangun dari Jurang Dalam: Rekan Rekan Neraka duduk bersidang disana.

Mengenai Ketidaktaatan Manusia yang Pertama, dan Buah
Pohon Terlarang itu, yang kecapan mematikannya
Membawa Maut ke dalam Dunia, dan seluruh celaka kita,
Dengan hilangnya Eden, sehingga Sang Manusia yang lebih Agung
Memulihkan kita, dan mendapatkan kembali Kedudukan penuh kebahagiaan itu, [ 5 ]
Bernyanyilah Ilham Sorgawi, yang di puncak rahasia
Horeb, atau Sinai, telah mengilhami
Gembala tersebut, yang pertama kali mengajari Bangsa Pilihan,
Pada Mulanya bagaimana Langit dan Bumi
Muncul dari Kekacauan: Atau jikalau Bukit Sion [ 10 ]
Lebih menyenangkan Engkau, dan Aliran Siloa yang mengalir
Deras di samping Nabi Allah; Demikianlah aku
Memanggil bantuanMu bagi Nyanyian pertualangan olehku
Yang tidak dengan setengah setengah bermaksud terbang tinggi
Di atas Gunung Aonia, sementara hendak mencapai [ 15 ]
Hal hal yang belum pernah dicoba dalam Prosa dan Rima.
Dan terutama Engkau Wahai Roh, Yang lebih menyenangi
Melebihi segala Bait hati yang benar dan murni,
Ajari aku, sebab Engkau tahu; Engkau pada mulanya
Ada disana, dan dengan sayap sayap perkasa terbentang [ 20 ]
Bagaikan burung dara melayang diatas Kekacauan yang luas
Dan mematangkannya: Apa yang dalam diriku gelap
Terangilah, apa yang rendah, naikkan dan topang;
Sehingga sampai kepada puncak Pernyataan agung ini
Aku boleh menyatakan Penyediaan Kekal, [ 25 ]
Dan membenarkan segala jalan Allah kepada manusia.
Katakan dahulu. Sebab Sorga tidak menyembunyikan apapun dari mataMu
Tidak juga Dasar Neraka yang dalam, katakan dahulu penyebab apa
Memindahkan Nenek Moyang kita dari Keadaan yang bahagia itu,
Diperkenan oleh Sorga begitu tingginya, sehingga jatuh [ 30 ]
Dari Pencipta mereka, dan melanggar KehendakNya
Jikalau tidak karena satu larangan saja, sudah menjadi Penguasa Penguasa Dunia?
Siapa yang pada mulanya membujuk mereka ke dalam pembangkangan keji itu?
Sang Ular Neraka; ialah itu, yang tipu dayanya
Dibangkitkan dengan Iri Hati dan Dendam, menyesatkan [ 35 ]
Ibu Umat Manusia, dan pada masanya Keangkuhannya
Telah melemparkannya keluar dari Sorga, dengan seluruh Balatentaranya
Para Malaikat Pemberontak, dengan bantuan mereka ia bercita cita
Menempatkan dirinya dalam Kemuliaan diatas Rekan Rekannya,
Ia yakin telah mampu menandingi Sang Maha Tinggi, [ 40 ]
Jika ia menentang; dan dengan tujuan penuh hasrat
Melawan Tahta dan Kuasa Kerajaan Allah
Membangkitkan Perang durhaka di Sorga dan Pertempuran penuh keangkuhan
Dengan usaha sia sia. Ia oleh Sang Kuasa Mahabesar
Melemparkannya dengan kepala terbakar menyala dari Langit Abadi [ 45 ]
Dengan keruntuhan mengerikan dan kobaran api turun
Ke dalam kengerian tanpa dasar, disana untuk berdiam
Dalam Rantai Rantai Adamant dan Api penghukuman,
Yang telah berani menantang Sang Mahakuasa berperang.
Sembilan kali Jangka Waktu yang mengukur Siang dan Malam [ 50 ]
Bagi manusia, ia dengan para anggotanya yang mengerikan
Tergeletak takluk, berguling dalam Teluk berapi api
Terperangah walaupun abadi: Namun hukumannya
Menyimpankannya bagi lebih banyak murka lagi; sebab sekarang pikiran
Baik mengenai kebahagiaan yang hilang dan kesakitan berkelanjutan [ 55 ]
Menyiksa dia; ke sekeliling ia melemparkan pandangannya penuh ratap
Yang menyaksikan siksaan dan kekejutan yang besar
Bercampur dengan keangkuhan degil dan kebencian teguh:
Dengan segera sejauh jarak pandang Malaikat ia memandang
Keadaan buruk yang porak poranda dan liar, [ 60 ]
Sebuah Penjara Bawah Tanah yang mengerikan, pada seluruh sisinya meluas
Bagaikan sebuah Perapian besar menyala nyala, namun dari nyala nyala tersebut
Tiada cahaya, namun malahan kegelapan yang tampak
Yang hanya menunjukkan pemandangan pemandangan celaka,
Daerah daerah penuh duka, bayang bayang ratapan, dimana damai [ 65 ]
Dan perhentian tidak pernah bisa berdiam, harapan tidak kunjung datang
Yang datang kepada semua; namun siksaan tanpa akhir
Tetap memburu, dan Banjir berapi api, dinyalakan
Oleh Belerang yang selalu terbakar tidak habis habisnya:
Tempat yang demikian telah disediakan oleh Keadilan Kekal [ 70 ]
Untuk mereka yang memberontak, disini Penjara mereka ditetapkan
Dalam kegelapan yang amat sangat, dan bagian mereka ditempatkan
Sejauhnya disingkirkan dari Allah dan terang Sorga
Bagai dari Pusat Semesta tiga kali jaraknya ke Ujung terjauh.
Sungguh betapa berbedanya dengan tempat darimana mereka jatuh! [ 75 ]
Disana kawan kawan kejatuhannya, dilanda
Oleh Banjir dan Beliung api yang menderu deru,
Ia segera melihat mereka, dan yang menggeliat di sisinya
Ia yang kuasanya kedua setelahnya, dan sesudahnya dalam kejahatan,
Lama sesudah itu dikenal di Palestina, dan dinamai [ 80 ]
Beelzebub. Kepada siapa sang Musuh Utama,
Dan kemudian di Sorga dinamai Setan, dengan kata kata penuh tantangan
Memecahkan kesunyian yang menakutkan demikian memulai.
Jikalau engkau adalah ia; Namun Oh betapa jatuhnya! betapa berubahnya
Darinya, yang di Dunia Terang yang bahagia [ 85 ]
Berpakaian cahaya abadi gemilang melebihi
Berlaksa laksa malaikat malaikat terang: Jikalau ia oleh persekutuan bersama,
Pikiran dan persetujuan bersama, harapan setara
Dan marabahaya dalam Usaha Gemilang tersebut,
Digabungkan denganku dulu, sekarang kesengsaraan telah menggabungkanmu [ 90 ]
Dalam keruntuhan setara: ke dalam Lobang Dalam mana kaulihat
Dari ketinggian bagimana jatuh, begitu jauh lebih kuat terbukti
Dia dengan GunturNya: dan hingga saat itu siapakah yang mengetahui
Kuasa TanganNya yang mendahsyatkan? Namun bukan karena itu,
Bukan juga apa yang Sang Pemenang Berkuasa dalam amukNya [ 95 ]
Dapat menjatuhkan atas kita, maka aku menyesal atau berubah,
Walaupun tampak berubah dari luar; pikiran teguh itu
Dan cela yang mulia, yang timbul dari perasaan hak yang dirampas,
Bersama dengan mereka yang paling perkasa membangkitkanku untuk melawan,
Dan ke dalam perlawanan ganas membawa juga [ 100 ]
Pasukan roh roh bersenjata yang tidak terhitung jumlahnya
Yang berani tidak menyenangi pemerintahanNya, dan lebih memilih aku,
Kekuatan penuhNya ditentang dengan kekuatan permusuhan
Dalam Pertempuran penuh keraguan di Dataran Dataran Sorga,
Dan menggoncangkan tahtaNya. Kenapa kalau kita kalah di medan perang? [ 105 ]
Tidak semuanya terhilang; Kehendak yang tak tertaklukkan,
Dan pelajaran dendam, kebencian abadi,
Dan keberanian untuk tidak pernah tunduk atau menyerah:
Dan apalagi yang tidak bisa ditundukkan?
Kemuliaanku tidak akan pernah oleh murka atau keperkasaanNya [ 110 ]
Merampasnya dariku. Untuk menunduk dan memohon pengampunan
Dengan lutut bertelut, dan mengIlahikan kekuatanNya,
Yang oleh sebab kengerian Tanganku baru baru ini
Meragukan KemaharajaanNya Sendiri, yang sememangnya rendah,
Yang merupakan aib dan malu dibawah [ 115 ]
Kejatuhan ini; sebab oleh Takdir maka kekuatan ilah ilah
Dan wujud Sorgawi ini tidak bisa binasa,
Sebab melalui pengalaman kejadian besar ini
Dalam hal Persenjataan tidak lebih buruk, dalam pandangan ke depan jauh lebih maju,
Kita bisa dengan harapan yang lebih berhasil menetapkan diri [ 120 ]
Untuk melancarkan baik dengan kuasa atau tipudaya Perang abadi
Tanpa terdamaikan lagi, kepada Lawan besar kita,
Yang sekarang berkemenangan, dan dalam sukacita berlebihan
Sendirian memerintah sebagai Zalim Sorga.
Demikian sang Malaikat Murtad berkata, walau dengan kesakitan, [ 125 ]
Menyombongkan diri dengan gaduh, namun digoncang rasa putus asa yang dalam:
Dan segera dijawabnya oleh Rekannya yang lantang.
Wahai Raja, Wahai Penghulu banyak Kuasa Kuasa yang Bertahta,
Yang memimpin Serafim yang terkepung ke Peperangan
Dibawah pimpinanmu, dan dengan perbuatan perbuatan penuh kengerian [ 130 ]
Tanpa takut, membahayakan Raja kekal Sorga;
Dan menguji Keunggulan agungNya,
Apakah ditopang oleh kekuatan, atau Peluang, atau Takdir,
Terlalu jelas aku melihat dan menyesalkan kejadian mengerikan itu,
Yang dengan kejatuhan menyedihkan dan kekalahan keji [ 135 ]
Telah menyebabkan kita kehilangan Sorga, dan seluruh Balatentara perkasa ini
Dalam kehancuran penuh kengerian ditundukkan serendah rendahnya,
Sejauh ilah ilah dan Hakekat Sorgawi
Bisa binasa: sebab pikiran dan roh tetap
Tidak tertaklukkan, dan kekuatan segera kembali, [ 140 ]
Walau seluruh Kemuliaan kita padam, dan keadaan bahagia
Disini ditelan oleh kesengsaraan tanpa akhir.
Namun bagaimana jikalau Dia Penakluk kita, (Yang sekarang aku
Yakin dalam hal kuasa adalah Mahakuasa, sebab tidak kurang
Dari sedemikian bisa mengatasi kuasa seperti kita semua) [ 145 ]
Telah menyisakan untuk kita semangat dan kekuatan kita seutuhnya
Agar dengan sepenuhnya kita menderita dan menahan segala kesakitan kita,
Sehingga kita dengan demikian boleh mencukupi kemarahanNya yang penuh dendam,
Atau melakukan bagiNya pelayanan yang lebih besar sebagai taklukan taklukanNya
Sesuai hak Peperangan, apapun urusanNya itu [ 150 ]
Disini di Pusat Neraka bekerja didalam Api,
Atau melaksanakan Perintah PerintahNya di Jurang Dalam yang suram;
Maka bagaimana hal itu bisa menolong kita walaupun kita masih merasakan
Kekuatan yang tidak berkurang, atau wujud abadi
Untuk menjalani penghukuman kekal? [ 155 ]
Kepadanya dengan kata kata cepat sang Musuh Utama menjawab.
Kerub yang Jatuh, menjadi lemah memang sengsara
Melakukan maupun Menderita: namun akan hal ini yakinlah,
Untuk berbuat kebaikan yang seharusnya takkan pernah menjadi tugas kita,
Namun selalu untuk berbuat jahat kesenangan kita satu satunya, [ 160 ]
Sebab berlawanan dengan Kehendak agungNya
Yang kita lawan. Jikalau demikian PenyediaanNya
Dari kejahatan kita hendak menghasilkan kebaikan
Pekerjaan kita haruslah untuk membengkokkan tujuan tersebut,
Dan dari kebaikan tetap juga mencari cara untuk kejahatan; [ 165 ]
Yang seringkali mungkin berhasil, dengan demikian mungkin
Akan membuat sedih hatiNya, jikalau aku tidak gagal, dan mengacaukan
Rencana rencana terdalamNya dari tujuan mereka yang ditakdirkan.
Namun lihatlah sang Pemenang yang marah telah memanggil kembali
Hamba hamba pembalasanNya dan pengejaran [ 170 ]
Kembali ke Gerbang Gerbang Sorga: Hujan Api Belerang
Meluncur mengejar kita dalam badai, yang dihembuskan telah menyalakan
Gelombang berapi, yang dari Jurang Tinggi
Sorga menerima kita jatuh, dan Petir,
Dipersayap dengan Halilintar menyala nyala dan murka meledak ledak, [ 175 ]
Mungkin telah kehabisan sambarannya, dan sekarang berhenti
Untuk meraung melalui Jurang Dalam yang luas dan tak terbatas.
Janganlah kita melepaskan kesempatan ini, apakah cemooh,
Atau murka yang terpuaskan memberikannya dari Lawan kita.
Lihatkah engkau Dataran suram disana, menyedihkan dan liar, [ 180 ]
Tempat kebinasaan, hampa akan cahaya,
Kecuali apa yang oleh kemilau nyala nyala api ganas ini
Menampakkanya pucat dan mengerikan? Kesana mari kita menuju
Dari lemparan gelombang gelombang berapi ini,
Disana beristirahat, jikalau bisa ditemukan istirahat disana, [ 185 ]
Dan menyusun kembali Kuasa Kuasa kita yang terhajar,
Bersepakat bagaimana kita bisa dengan demikian menyerang sekuatnya
Musuh kita, kekalahan kita sendiri bagaimana memperbaikinya,
Bagaimana mengatasi Bencana mengerikan ini,
Bantuan apa yang bisa kita dapatkan dari Harapan, [ 190 ]
Jikalau tidak tekad apa dari keputusasaan.
Demikian Setan berbicara ke Kawan terdekatnya
Dengan Kepala diangkat tinggi diatas gelombang, dan Mata
Yang berkilat menyala nyala, Bagian Bagian lainnya
Terbaring dalam Banjir berapi, mencapai jauh panjang dan besar [ 195 ]
Berbaring terapung berlipat lipat kali ukuran, dalam ukuran sebesar
Seperti mereka yang oleh Dongeng Dongeng disebutkan berukuran mengerikan,
Titan, atau yang lahir dari Bumi, yang berperang melawan Yupiter,
Briaeros atau Taifun, yang Sarangnya
Terletak dekat Tarsus kuno, atau mahluk Laut itu [ 200 ]
Lewiatan, yang dari segala pekerjaanNya Allah telah
Menciptakannya paling besar yang merenangi arus Samudera:
Ia mungkin tidur di antara buih buih laut Norwegia
Nahkoda sebuah Perahu kecil yang diombang ambingkan malam,
Mengiranya sebagai sebuah Pulau, sering, seperti yang diceritakan para Pelaut, [ 205 ]
Dengan Jangkar tertancap di kulitnya yang bersisik
Berlabuh di sisinya dibawah Arus, sementara Malam
Memenuhi Lautan, dan berharap Pagi berlambat lambat:
Demikian terentang besar panjangnya sang Penjahat Utama terbaring
Dirantai diatas Lautan api, tidak lagi juga sejak itu [ 210 ]
Telah mengangkat atau menaikkan kepalanya, namun atas kehendak
Dan izin agung Sorga yang memerintah atas semua
Membiarkan dia sekehendaknya pada rancangan rancangan jahatnya,
Sehingga dengan kejahatan berulang ulang dia akan
Menumpukkan atas dirinya penghakiman, sementara ia menghendaki [ 215 ]
Kejahatan pada yang lainnya, dan dengan amuk bisa melihat
Bagaimana semua niat jahatnya akhirnya menghasilkan
Kebaikan tanpa batas, karunia dan belas kasihan ditunjukkan
Atas Manusia yang olehnya terbujuk, namun atas dirinya sendiri
Kebingungan penuh gaduh, murka dan pembalasan ditumpahkan. [ 220 ]
Kedepan ia bangkit tegak dari Kolam Api
Sosok perkasanya; di sisi masing masing nyala nyala api
Terdorong mundur menundukkan puncak puncak runcing, dan bergulung
Berasap tebal, meninggalkan di tengah tengah suatu Lembah penuh kengerian.
Lalu dengan sayap sayap terentang ia mengarahkan perjalanannya [ 225 ]
Mengawang, mengapung diatas Udara gelap
Terasa olehnya berat yang tidak biasanya, sehingga di atas Tanah kering
Ia mendarat, jikalau itu adalah Tanah yang selalu terbakar
Oleh api padat, seperti Lautan Api oleh api cair;
Dan demikian tampak warnanya, seperti ketika kekuatan [ 230 ]
Angin bawah tanah memindahkan sebuah Gunung
Yang direnggut dari Pelorus, atau sisi hancur
Gunung Etna yang meledak, yang berkobar kobar
Dan menyala nyala isinya disana membuahkan Api,
Dirasuk oleh murka Mineral, dan dibantu oleh hembusan Angin, [ 235 ]
Dan meninggalkan dasar hangus yang seluruhnya dipenuhi
Dengan bau busuk dan asap: Tempat peristirahatan demikian diinjak telapak
Dari kaki kaki yang terhina. Ia diikuti selanjutnya oleh Kawannya,
Mereka berdua berbangga telah mengarungi banjir Stygia
Sebagai ilah ilah, dan dengan kekuatan mereka sendiri yang telah pulih, [ 240 ]
Bukan dengan bantuan Kuasa yang diatas segala galanya.
Inikah Daerah, ini Tanah, Cuaca,
Berkatalah sang Penghulu Malaikat yang terhilang, ini kedudukan
Yang harus kita terima ganti Sorga, kesuraman penuh ratapan ini
Sebagai ganti cahaya sorgawi itu? Biarlah demikian, sebab Dia [ 245 ]
Yang sekarang adalah Berdaulat bisa menentukan dan memerintahkan
Apa yang dianggap benar: paling jauh dari Dia paling baik
Yang telah disamai akal budi, dibuat unggul oleh kekuatan
Diatas mereka yang setara denganNya. Selamat tinggal Dataran Dataran bahagia
Dimana Sukacita selamanya tinggal: Hai kengerian, hai [ 250 ]
Dunia neraka, dan engkau Neraka terdalam
Terimalah Pemilikmu yang baru: Ia yang membawa
Pikiran yang tidak terubahkan oleh Tempat atau Waktu.
Pikiran adalah tempatnya tersendiri, dan dengan sendirinya
Bisa membuat Neraka bagai Sorga, atau Sorga bagai Neraka. [ 255 ]
Dimanapun sama saja, jikalau aku masih tetap sama,
Dan harus menjadi apakah aku, namun tetap dibawah Dia
Yang telah dibuat menjadi lebih besar oleh PetirNya? Disini paling tidak
Kita akan bebas; Sang Mahakuasa tidak membangun
Disini untuk kemudian dicemburuiNya, tidak akan mengusir kita dari sini: [ 260 ]
Disini kita bisa memerintah dengan aman, dan dalam pilihanku
Memerintah adalah hasrat yang sepatutnya bahkan di Neraka sekalipun:
Lebih baik memerintah di Neraka, daripada melayani di Sorga.
Namun demikian baiklah kita kepada teman teman setia kita,
Rekan rekan dan sekutu sekutu kekalahan kita bersama [ 265 ]
Yang terbaring tercengang cengang diatas Kolam penuh kelupaan itu,
Dan memanggil mereka agar jangan berbagi dengan kita bagian mereka
Di Rumah yang sengsara ini, atau sekali lagi
Dengan Kekuatan dikumpulkan mencoba lagi apa yang mungkin masih bisa
Didapatkan kembali di Sorga, atau apa lagi yang masih bisa terhilang di Neraka? [ 270 ]
Demikian Setan berbicara, dan kepadanya Beelzebub
Demikian menjawab. Pemimpin Pasukan Pasukan terang,
Yang tidak seorangpun bisa mengalahkannya kecuali Sang Mahakuasa,
Jikalau segera mereka mendengar suaramu, permohonan mereka yang paling hidup
Akan harapan dalam ketakutan dan bahaya, yang terdengar begitu sering [ 275 ]
Dalam kegawatan terburuk sekalipun, dan di ujung bahaya
Peperangan dalam amuknya, dalam seluruh serangan
Merupakan tanda paling meyakinkan bagi mereka, mereka akan segera melanjutkan
Keberanian baru dan bangkit lagi, walau sekarang mereka terbaring
Menggeliat dan bersujud di Lautan Api disana, [ 280 ]
Seperti kita sebelumnya, terkejut dan terheran heran,
Tidak mengherankan, jatuh dari ketinggian yang sedemikian menghancurkan.
Ia baru saja menyelesaikan kalimatnya ketika sang Penjahat besar
Bergerak menuju pantai; perisai beratnya
Yang ditempa dengan api sorgawi, padat, besar dan bulat, [ 285 ]
Digantungkannya di punggung; lingkaran lebarnya
Tergantung di bahunya bagaikan Bulan, yang Bulatannya
Melalui Kaca Teleskop dilihat oleh sang Seniman dari Tuscan
Pada Sore Hari dari puncak bukit Fesole,
Atau di Valdarno, untuk menemukan Tanah Tanah baru, [ 290 ]
Sungai Sungai atau Pegunungan di Bulatan Dunianya yang berbintik bintik.
Tombaknya, yang untuk menyamainya Pohon Pinus tertinggi
Yang ditebang di bukit bukit di Norwegia, untuk menjadi Tiang Layar
Bagi seorang Laksamana agung, cuma seperti tongkat,
Ia berjalan dengannya untuk menopang langkah langkah penuh kesulitan [ 295 ]
Diatas Kapur yang terbakar, tidak seperti langkah langkah
Di Langit Biru Sorga, dan Cuaca berat
Menghajar sisi tubuhnya penuh kesakitan, yang dilontarkan oleh Api;
Walau demikian ia bertahan, sehingga sampai di Pantai
Laut berapi api tersebut, ia berdiri dan memanggil [ 300 ]
Legion Legionnya, Wujud Wujud Malaikat, yang terbaring merenung
Tebal bagai Dedaunan Musim Dingin yang menutupi Aliran Aliran Air
Di Vallombrosa, dimana bayang bayang Etruria
Menjangkau jauh diatas menutupinya; atau biji bijian yang tersebar
Mengapung, ketika dengan Angin Angin ganas Orion mempersenjatai diri [ 305 ]
Telah mengaduk aduk Pantai Laut Merah, yang gelombangnya menjungkir balikkan
Busiris dan Pasukan Berkudanya dari Memphis,
Sementara dengan kebencian keji mereka mengejar
Para Pendatang yang tinggal di Goshen, yang memandang
Dari amannya pantai seberang Bangkai Bangkai mereka yang terapung [ 310 ]
Dan Roda Roda Kereta Berkuda yang remuk, begitu tebal tersebar
Hina dan terhilang mereka terbaring, menutupi Banjir Berapi,
Karena terheran heran akan perubahan mereka yang mengerikan.
Ia memanggil begitu keras, sehingga seluruh Jurang Dalam berongga
Neraka menggema. Para Penguasa, Para Pembesar, [ 315 ]
Para Tentara Perang, Bunga Sorga, dahulu milikmu, sekarang terhilang,
Jikalau kekagetan seperti ini bisa membelenggu
Roh roh abadi; atau telahkah kalian memilih tempat ini
Setelah kelelahan Peperangan untuk membaringkan
Keunggulanmu yang capai, untuk penghiburan yang bisa kalian temukan [ 320 ]
Untuk tidur disini, seperti di Lembah Lembah Sorga?
Atau dalam sikap menghamba demikian telahkah kalian bersumpah
Untuk memuja Sang Penakluk? Yang sekarang melihat
Kerubim dan Serafim berguling guling dalam Banjir Berapi
Dengan Persenjataan dan Panji Panji terserak, hingga akhirnya [ 325 ]
Pengejar pengejar tangkasNya dari Gerbang Gerbang Sorga melihat
Keunggulan tersebut, dan turun menginjak injak kita
Menyambar, atau dengan Halilintar Halilintar sambung menyambung
Memakukan kita ke dasar Jurang Dalam ini.
Bangunlah, bangkitlah, atau jatuhlah selama lamanya. [ 330 ]
Mereka mendengar, dan merasa malu, dan naik mereka bangkit
Diatas sayap, seperti ketika mereka yang seharusnya berjaga
Bertugas, ditemukan sedang tertidur oleh orang yang mereka takuti,
Mereka membangunkan dan membangkitkan diri mereka sebelum benar benar terbangun.
Bukan juga mereka tidak melihat kesusahan berat [ 335 ]
Dimana mereka berada, atau tidak merasakan kesakitan yang ganas;
Namun kepada Suara Panglima mereka mereka segera patuh
Tidak terhitung jumlahnya. Seperti ketika Tongkat penuh kuasa
Anak Amran di masa kesusahan Mesir
Melambai di Pantai, dan memanggil naik suatu awan gelap [ 340 ]
Belalang Belalang Pelahap, bergerak diatas Angin Timur,
Yang diatas Daerah Kekuasaan Firaun yang durhaka menggantung
Bagaikan Malam, dan menggelapkan seluruh Tanah Nil:
Begitu juga tidak terhitung jumlahnya Malaikat Malaikat jahat itu terlihat
Mengawang dengan sayap dibawah Kolong Neraka [ 345 ]
Diantara Api Api diatas, di bawah, dan di sekeliling;
Sehingga, sebagai tanda diberikan, Tombak yang terangkat
Milik Sultan besar mereka melambai untuk mengarahkan
Jalur mereka, dengan sama seimbang mereka turun mendarat
Di atas batu belerang kokoh, dan memenuhi seluruh Dataran; [ 350 ]
Sejumlah banyak, yang bahkan Daerah Utara yang penuh penduduk
Tak pernah mengeluarkan sedemikian dari perutnya yang membeku, untuk menyeberangi
Sungai Rhine atau Danaw, ketika Anak Anaknya yang biadab
Datang bagai Banjir Besar atas Daerah Selatan, dan menyebar
Dibawah Gibraltar sampai ke padang pasir Libia. [ 355 ]
Kedepan dari seluruh Pasukan dan tiap Kelompok
Para Kepala dan Pemimpin menuju ke tempat dimana telah berdiri
Panglima besar mereka; Bentuk bentuk dan wujud wujud bagaikan allah
Mengungguli manusia, Kewibawaan Penguasa,
Dan Kuasa Kuasa yang ketika masih di Sorga duduk diatas Tahta Tahta; [ 360 ]
Walaupun akan Nama Nama mereka di Catatan Catatan Sorgawi sekarang
Tiada suatu peringatan lagi dilenyapkan dan dihapus
Oleh Pemberontakan mereka, dari Kitab Kitab Kehidupan.
Belum juga mereka diantara keturunan of Hawa
Mendapat Nama Nama baru, hingga berkelana diatas Bumi, [ 365 ]
Melalui ketahanan tinggi Para illah akan ujian ujian manusia,
Dengan kepalsuan dan kebohongan sebagian besar
Umat Manusia mereka rusak agar meninggalkan
Allah Pencipta mereka, dan yang tidak kelihatan dari
KemuliaanNya yang menciptakan mereka, diubah [ 370 ]
Seringkali menjadi Gambaran Mahluk Buas, dihiasi
Dengan Agama Agama gemerlap penuh Semarak dan Emas,
Dan memuja Iblis Iblis sebagai ilah ilah:
Saat itu mereka dikenal oleh manusia dengan Nama Nama berbeda beda,
Dan berbagai Berhala di seluruh Dunia Kafir. [ 375 ]
Katakanlah, Ilham, Nama mereka saat itu, siapa pertama, siapa terakhir,
Dibangunkan dari tidur, diatas Pembaringan berapi itu,
Atas panggilan Kaisar agung mereka, sesuai urutan
Datang satu persatu dimana ia berdiri diatas jalur telanjang,
Sementara kerumunan keji masih berdiri jauh? [ 380 ]
Penghulu mereka yang dari Lobang Dalam Neraka
Berkelana mencari mangsa di bumi, yang berani menempatkan
Kedudukan mereka lama sesudah Kedudukan Allah,
Mezbah Mezbah mereka di samping Mezbah MezbahNya, ilah ilah yang dipuja
Di antara Bangsa Bangsa di sekeliling, dan berani berdiam dekat [ 385 ]
YHWH yang mengguntur dari Sion, Yang bertahta
Diantara Kerubim; ya, seringkali ditempatkan
Di dalam Tempat KudusNya sendiri Tempat Penyembahan bagi mereka,
Kekejian Kekejian; dan dengan hal hal terkutuk
Upacara KudusNya, dan Perjamuan SuciNya dinajiskan, [ 390 ]
Dan dengan kegelapan mereka berani menghadapi terangNya.
Pertama tama Molokh, Raja mengerikan berlumuran dengan darah
Korban manusia, dan airmata orangtua,
Walau karena keributan Genderang dan Ceracap gaduh
Tak terdengar tangisan anak anak mereka, yang melewati api [ 395 ]
Menuju Berhala kejamnya. Kepadanya Bani Amon
Menyembah di Raba dan Datarannya yang berair,
Di Argob dan di Basan, sampai ke aliran sungai
Arnon yang paling jauh. Tidak puas juga dengan
Tempat yang begitu lancang, hati paling bijak [ 400 ]
Salomo ia bujuk dengan tipudaya untuk membangun
Kuilnya tepat menghadap Bait Allah
Diatas Puncak nyaman itu, dan menjadikan Tempat Berhalanya
Lembah Hinnom yang menyenangkan, sejak saat itu dinamai Tofet
Dan Gehenna hitam disebutkan, suatu Gambaran Neraka. [ 405 ]
Selanjutnya Kemos, kengerian keji Bani Moab,
Dari Aroar sampai ke Nebo, dan padang gurun
Abarim yang paling selatan; di Hesbon
Dan Horonaim, Daerah Kekuasaan Seon, dibalik
Lembah berbunga Sibma yang dibungkus Pokok Pokok Anggur, [ 410 ]
Dan Eleale sampai ke Kolam Aspal.
Peor Nama lainnya, ketika ia menyesatkan
Israel di Sittim saat keluarnya mereka dari Nil
Untuk melakukan baginya upacara upacara najis, yang menyebabkan celaka bagi mereka.
Dari sana juga Kekejian Kekejiannya yang penuh hawa nafsu diperbesar olehnya [ 415 ]
Bahkan sampai ke Bukit kecelaan, disisi Tiang Berhala
Molokh pembunuh, dengan nafsunya yang dikeraskan oleh kebencian;
Hingga Yosia yang baik menyingkirkan mereka dari sana ke Neraka.
Dengan mereka datang, yang dari sungai berbatasan
Efrat tua sampai ke Aliran Air yang memisahkan [ 420 ]
Mesir dari tanah Siria, memiliki Nama Nama umum
Baalim dan Ashtaroth yang laki laki,
Dan yang Perempuan. Sebab bagi Roh Roh sekehendak mereka
Bisa berbentuk Lelaki maupun Perempuan, atau keduanya sekaligus; begitu lembut
Dan tidak terbatas Hakekat mereka murni [ 425 ]
Tidak terikat atau terbelenggu dengan sendi maupun anggota tubuh,
Tidak juga didirikan atas kekuatan tulang yang rapuh,
Seperti daging yang memberatkan; namun dalam wujud apapun yang mereka pilih
Melebar atau memadat, terang maupun kabur,
Bisa melaksanakan rencana rencana mereka yang tak terlihat, [ 430 ]
Dan pekerjaan pekerjaan kasih maupun permusuhan dilaksanakan.
Demi mereka itu Bani Israel sering meninggalkan
Sumber Kekuatan mereka yang hidup, dan ditinggalkan tanpa bakti oleh mereka
MezbahNya yang benar, mereka menunduk turun dengan rendah
Kepada ilah ilah hewani; yang karenanya kepala mereka serendah itu juga [ 435 ]
Tertunduk di Pertempuran, takluk di hadapan Tombak
Musuh musuh yang dibenci. Dengan mereka ini dalam sepasukan
Datang Astoreth, yang oleh Orang Orang Fenisia dinamai
Astarte, Ratu Sorga, dengan Tanduk Tanduk bulan sabit;
Yang kepada Patung berkilaunya setiap malam dibawah Bulan [ 440 ]
Perawan Perawan Sidon mempersembahkan Nazar dan Nyanyian mereka,
Di Sion juga bukan tidak dinyanyikan, dimana berdiri
Kuilnya diatas Gunung aib itu, dibangun
Oleh Raja yang gemar berzinah itu, yang hatinya walau besar,
Tertipu oleh Perempuan Perempuan Kafir yang cantik, jatuh [ 445 ]
Kepada Berhala Berhala najis. Thammuz datang berikutnya di belakang,
Yang lukanya setiap tahun di Libanon menyebabkan
Perempuan Perempuan Siria meratapi nasibnya
Dalam perbuatan perbuatan zinah sepanjang satu hari Musim Panas,
Sementara Adonis yang mengalir lancar dari Batu asalnya [ 450 ]
Mengalir berwarna ungu ke Laut, seumpamanya karena darah
Thammuz yang terluka setiap tahun: Kisah Cinta tersebut
Menulari putri putri Sion dengan panas yang sama,
Yang gairah gairah liarnya di Serambi Kudus
Tampak oleh Yehezkiel, ketika oleh Penglihatan dibawa [ 455 ]
Matanya mengamati Penyembahan Berhala keji
Yang dilakukan Kaum Yehuda yang terbuang. Selanjutnya datang ia
Yang meratap sejadi jadinya, ketika Tabut Perjanjian yang Tertangkap
Mencacatkan Patungnya yang berwujud hewan, kepala dan kedua tangan terputus
Di dalam Kuilnya sendiri, di ujung tangga, [ 460 ]
Dimana ia roboh, dan memalukan Penyembah Penyembahnya:
Dagon Namanya, Binatang Buas dari Laut, dari atas Manusia
Dan kebawah Ikan: namun telah juga Kuilnya tinggi
Didirikan di Azotus, ditakuti di seluruh Sisi Pantai
Palestina, di Gat dan Askalon [ 465 ]
Dan perbatasan Akron dan Gaza's.
Ia diikuti Rimmon, yang Tempat Kedudukan menyenangkannya
Adalah Damaskus yang Indah, di Sisi Sisi subur
Sungai Abbana dan Pharphar, aliran aliran air yang berkilau.
Ia juga lancang menentang bait Allah: [ 470 ]
Pernah ia kehilangan seorang Kusta dan mendapat seorang Raja,
Ahas sang Penakluk yang bodoh, yang olehnya dibujuk
Untuk meruntuhkan dan mengganti Mezbah Allah
Dengan mezbah dari Siria, yang diatasnya dibakar
Korbannya yang najis, dan memuja ilah ilah [ 475 ]
Yang telah ditaklukkan olehnya. Setelah mereka ini muncul
Sekelompok yang dengan Nama Nama kuno Termahsyur,
Osiris, Isis, Horus dan Rombongan mereka
Dengan wujud mengerikan dan sihir penuh aniaya
Mesir yang penuh kekerasan dan Imam Imamnya, mereka mencari [ 480 ]
Ilah ilah mereka yang berkelana tersamar dalam wujud wujud hewan
Bukannya wujud manusia. Tidak juga Israel lolos dari
Kekejian tersebut ketika Emas mereka yang dipinjam membentuk
Anak Lembu di Horeb: dan sang Raja Pemberontak
Melipatgandakan dosa tersebut di Betel dan di Dan, [ 485 ]
Menyamakan Penciptanya dengan Lembu yang Merumput,
YHWH, yang dalam satu Malam ketika Dia lewat
Dari Mesir berjalan, menjatuhkan dengan satu hajaran
Baik anak anak sulung dan seluruh ilah ilahnya yang mengembik.
Belial datang terakhir, saat itu suatu roh yang keji melebihinya [ 490 ]
Tiada yang telah jatuh dari Sorga, atau dengan lebih jijik menyukai
Kejahatan sejadi jadinya: Kepadanya tiada Kuil didirikan
Atau Mezbah berasap; namun siapa yang lebih sering dari dia
Dalam Bait dan di Mezbah Mezbah, ketika para Imam
Berubah fasik, seperti Anak Anak Lelaki Eli, yang memenuhi [ 495 ]
Dengan nafsu dan kekerasan bait Allah.
Di banyak Sidang dan Istana ia juga Memerintah
Dan di Kota Kota yang mewah, dimana keributan
Kerusuhan naik mengatasi Menara Menara tertinggi,
Dan pelanggaran dan kesalahan: Dan ketika Malam [ 500 ]
Menggelapkan Jalanan, maka berkelana Anak Anak
Belial, meluap luap dengan kekurangajaran dan anggur.
Saksikan Jalanan Sodom, dan pada malam itu
Di Gibeah, ketika pintu rumah ia yang menyambut
Menyerahkan seorang Wanita untuk menghindari pemerkosaan yang lebih buruk. [ 505 ]
Mereka ini yang terkemuka dalam kedudukan dan kekuatan;
Sisanya terlalu banyak untuk diceritakan, walau jauh lebih terkenal,
Ilah ilah Ionia, yang oleh Bani Java dijunjung
Sebagai ilah ilah, namun diakui sesudah Langit dan Bumi
Yang dianggap sebagai Bapa dan Ibu mereka; Titan putra sulung Langit [ 510 ]
Dengan keturunannya yang amat besar, dan hak lahirnya dirampas
Oleh Saturnus yang lebih muda, darinya oleh Yupiter yang lebih perkasa
Putra darinya dan Rhea mendapati perlakuan yang sama;
Demikian jugalah Yupiter merampas pemerintahan: mereka ini pertama kali di Kreta
Dan Ida dikenal, lalu di puncak Bersalju [ 515 ]
Olimpus yang dingin memerintah Langit tengah
Sorga tertinggi bagi mereka; atau di Tebing Delfi,
Atau di Dodona, dan di seluruh perbatasan
Tanah Doria; atau yang dengan Saturnus tua
Melarikan diri melewati Adria menuju Taman Taman Hesperia. [ 520 ]
Dan melalui daerah Keltik menjalani Pulau Pulau terujung.
Semua ini dan banyak lagi datang; namun dengan wajah wajah
Tertunduk dan muram, namun sedemikian dimana tampak
Samar samar segelintir sukacita, karena telah menemukan penghulu mereka
Tidak dalam keputusasaan, karena mereka tidak terhilang [ 525 ]
Dalam kekalahan; yang di wajahnya tampak
Bagai suatu keraguan: namun dengan keangkuhannya
Segera memulihkan diri, dengan kata kata sombong, yang seolah olah mengandung
Arti bernilai, namun bukan isi sesungguhnya, dengan lembut membangkitkan
Keberanian mereka yang melemah, dan membuang ketakutan mereka. [ 530 ]
Dengan segera perintah diberikan pada saat suara peperangan
Sangkakala dan Gambus yang berbunyi keras hendaknya ditegakkan tinggi
Panjinya yang perkasa; kehormatan yang membanggakan itu dijalankan oleh
Azazel sebagai haknya, seorang Kerub yang tinggi sosoknya:
Yang dari Tongkat berkilaunya mengibarkan
Bendera Kekaisarannya, yang dengan kekuatan penuh maju tinggi [ 535 ]
Bersinar bagai Bintang Jatuh melambai lambai oleh arus Angin
Dengan Batu Permata dan kilauan Keemasan disulam dengan megah,
Segala ketentaraan dan Tanda Kemenangan Serafim: sementara itu
Logam yang berbunyi meraungkan bunyi Peperangan: [ 540 ]
Yang olehnya Balatentara alam semesta tersebut menaikkan
Sahutan yang merobek Kolong Neraka, dan jauh di luarnya
Membawa kengerian bagi Pemerintahan Kekacauan dan Malam yang ada sejak dulu kala.
Dengan segera melalui kesuraman terlihat
Selaksa Panji Panji bangkit ke Udara [ 545 ]
Dengan Warna Warna Semarak melambai lambai: naik juga
Bagaikan Hutan luas amat banyak Tombak: dan Ketopong Ketopong bergerombol
Muncul, dan perisai perisai terangkat dalam susunan tebal
Yang dalamnya tak terukur: Dengan segera mereka bergerak
Dalam susunan Falanks sempurna mengikuti suasana Doria [ 550 ]
Oleh Suling dan Seruling lembut; sebagaimana yang dinaikkan
Ke ketinggian semangat paling mulia Pahlawan Pahlawan kuno
Yang mempersenjatai diri menuju Pertempuran, dan bukannya dengan amuk
Namun bernafaskan semangat keberanian teguh, kokoh dan tak tergerakkan
Oleh ketakutan maut untuk gerak lolos atau gerak mundur yang hina, [ 555 ]
Tidak juga berkekurangan kuasa untuk melemahkan dan membujuk
Dengan sentuhan sentuhan sesungguhnya, pikiran yang kacau, dan menyingkirkan
Siksaan dan keraguan dan ketakutan dan duka dan kesakitan
Dari pikiran manusia maupun malaikat. Demikian mereka
Bernafaskan kekuatan bersatu dengan keputusan teguh [ 560 ]
Bergerak dengan diam mengikuti Rebana lembut yang meringankan
Langkah langkah menyakitkan diatas tanah terbakar; dan sekarang
Bergerak maju dalam pandangan, mereka berdiri, sebuah Garis Depan menakjubkan
Yang panjang mengerikan dan penuh Senjata Senjata berkilau kilau, dalam wujud
Prajurit Prajurit Perang kuno dengan Tombak dan Perisai tersusun, [ 565 ]
Menantikan perintah apa yang oleh Penghulu perkasa mereka
Akan diberikan: sepanjang Susunan bersenjatanya ia
Menujukan matanya yang berpengalaman, dan segera menjangkau
Melihat seluruh Pasukan, tersusun dengan baik,
Wajah dan sosok mereka bagai ilah ilah, [ 570 ]
Jumlah mereka terakhir dihitung olehnya. Dan sekarang hatinya
Mengembang dengan kebanggaan, dan hatinya mengeras karena kekuatannya
Ia meninggikan dirinya: Sebab tidak pernah sejak manusia diciptakan,
Tampak kekuatan yang sedemikian, yang dapat disamakan dengan pasukannya
Bisa mengungguli pasukan kecil itu [ 575 ]
Yang diperangi oleh Burung Burung Bangau: walau seluruh keturunan Raksasa
Phlegra dengan Bangsa para Pahlawan digabungkan
Yang bertempur di Thebes dan Ilium, di kedua sisi mereka
Bergabung ditambah dengan ilah ilah; dan apa yang diceritakan
Dalam Dongeng atau Kisah Putra Uther [ 580 ]
Dikelilingi oleh Para Ksatria Inggris dan Armorik;
Dan semua yang sejak itu, baik yang Dibaptis maupun yang Kafir
Bertanding di Aspramont dan Montalban,
Damaskus atau Maroko, atau Trebisond,
Atau yang dikirim oleh Biserta dari pantai Afrika [ 585 ]
Ketika Charlemagne dengan seluruh Rekan Sekutunya jatuh
Di Fontarabbia. Sebegitu jauhnya pasukannya diluar
Perbandingan dengan kemahiran manusia, namun mematuhi
Panglima mereka yang menakutkan: ia diatas semua mereka
Dalam bentuk dan gerak gerik menonjol penuh kebanggaan [ 590 ]
Berdiri bagai Menara; wujudnya masih belum kehilangan
Seluruh terangnya yang mula mula, tidak juga tampak
Kurang dari Penghulu Malaikat yang jatuh, dan kelimpahan
Kemuliaan tersamar: Seperti ketika Matahari baru terbit
Menengok melalui Udara berkabut yang Datar [ 595 ]
Tanpa Sinar Cahayanya, atau dari balik Bulan
Dalam Gerhana suram memancarkan cahaya penuh bencana
Atas separuh Bangsa Bangsa, dan dengan ketakutan akan perubahan
Menyusahkan Raja Raja. Begitu tergelapkan, namun bersinar
Diatas mereka semua ia sang Malaikat Penghulu: namun wajahnya [ 600 ]
Luka luka dalam digariskan oleh Halilintar, dan kesusahan
Di pipinya yang memucat, namun dibawah Dahinya
Kebaranian teguh, dan Keangkuhan pasti
Menantikan pembalasan dendam: kejam matanya, namun menunjukkan
Tanda tanda penyesalan dan kesengsaraan karena melihat [ 605 ]
Kawan kawan dalam kejahatannya, para pengikut
(Jauh tidak demikian dahulu dipandangnya dalam kebahagiaan) dikutuk
Selamanya ditetapkan bagian mereka dalam kesakitan,
Berjuta juta Roh Roh yang karena kesalahannya dikeluarkan
Dari Sorga, dan dari Sang Kemuliaan Kekal dilemparkan [ 610 ]
Karena pemberontakannya, namun begitu setianya mereka berdiri,
Kemuliaan mereka mengering. Laksana ketika Api dari Sorga
Telah menghanguskan Pohon Pohon Ek di Hutan, atau Pohon Pohon Pinus di Gunung,
Dengan puncak hangus mereka tumbuh megah walaupun tidak berdaun
Berdiri diatas Perapian yang tersambar. Ia sekarang bersiap [ 615 ]
Berbicara; dengan segera Barisan Barisan mereka yang digandakan dilengkungkan
Dari sayap ke sayap, dan setengah melingkarinya di sekeliling
Dengan seluruh Rekan Rekannya: perhatian ke ia membuat mereka diam.
Tiga kali ia mencoba, dan tiga kali karena siksaan cela,
Airmata seperti yang ditangiskan Para Malaikat, memancar keluar: akhirnya [ 620 ]
Kata kata diselingi dengan desahan menemukan jalan keluar.
Oh Berlaksa Laksa roh roh abadi, Oh Kuasa Kuasa
Tak tertandingi, namun melawan Sang Mahakuasa, dan perjuangan tersebut
Tidak hina, walaupun kejadian tersebut penuh kengerian,
Sebagaimana tampak dari tempat ini, dan perubahan mengerikan ini [ 625 ]
Penuh kehinaan untuk diucapkan: namun kekuatan pikiran apa
Yang melihat atau mengetahui sebelumnya, dari Kedalaman
Pengetahuan lampau atau sekarang, bisa merasa takut,
Bagaimana kekuatan bersatu ilah ilah, bagaimana yang sedemikian
Yang berdiri disini, bisa mengenal pukulan mundur? [ 630 ]
Sebab siapa yang masih bisa mempercayai, walau sesudah kekalahan sekalipun,
Bahwa seluruh Legion Legion perkasa ini, yang pengucilannya
Telah mengosongkan Sorga, akan gagal naik kembali
Bangkit sendirinya, dan memiliki kembali tempat kedudukan asalnya?
Bagiku jadilah saksi wahai seluruh Balatentara Sorga, [ 635 ]
Jikalau persetujuan yang berbeda, atau bahaya dijauhi
Olehku, telah menyebabkan hilangnya harapan kita. Namun Dia yang memerintah
Sang Raja di Sorga, hingga saat itu dengan aman
Duduk diatas TahtaNya, ditegakkan oleh kedudukan kuno,
Persetujuan atau adat, dan Kedudukan KerajaanNya [ 640 ]
DitunjukkanNya sepenuhnya, namun masih tetap menyembunyikan kekuatanNya,
Sehingga memancing usaha kita, dan menyebabkan kejatuhan kita.
Maka dari sekarang kita tahu akan keperkasaanNya, juga akan keperkasaan kita sendiri
Janganlah kita mencari perkara, jangan juga merasa takut akan
Perang baru, yang terjadi; bagian yang lebih baik bagi kita tetap [ 645 ]
Untuk bekerja dalam rancangan rahasia, dengan tipuan atau tipudaya
Apa yang tidak bisa dicapai kekuatan: supaya Dia setidaknya
Pada akhirnya mendapati dari kita, yang diatasiNya
Dengan kekuatan, telah mengatasi setengah saja seteruNya.
Ruang boleh menghasilkan Dunia Dunia baru; mengenai hal ini telah tersebar [ 650 ]
Ada cerita yang mahsyur di Sorga bahwa Dia tidak lama lagi
Bermaksud menciptakan, dan disana menanamkan
Sebuah keturunan, yang dianggap oleh pilihanNya
Sepantasnya diperkenan sama seperti Putra Putra Sorga:
Serangan pertama kita, kesana atau dimanapun juga: [ 655 ]
Sebab Lobang Dalam Neraka ini tidak akan pernah menahan
Roh Roh Sorgawi dalam Penahanan, tidak juga Jurang Dalam
Lama tertutup di bawah kegelapan. Namun pikiran pikiran ini
Harus dimatangkan dengan Persetujuan Penuh: Damai tidak mungkin, [ 660 ]
Siapa yang bisa berpikir Takluk? Peranglah, Perang
Terbuka maupun termaksud harus ditetapkan.
Ia berbicara: dan untuk meneguhkan kata katanya, dihunuskan
Berjuta juta pedang pedang berapi, dicabut dari sisi paha paha
Kerubim yang perkasa; kilauan yang tiba tiba [ 665 ]
Menerangi Neraka hingga jauh sekeliling: dengan angkuh mereka mengamuk
Melawan Sang Mahatinggi, dan ganasnya dengan senjata yang digenggam
Dihantamkan ke Perisai Perisai mereka yang membunyikan kegaduhan perang,
Melontarkan perlawanan menuju ke kolong Sorga.
Ada berdiri sebuah Bukit tidak jauh dari sana yang puncak mengerikannya [ 670 ]
Memuntahkan api dan asap yang bergulung; selebihnya seluruhnya
Berkilau dengan kilatan cemerlang, tidak diragukan lagi pertanda
Bahwa dalam perutnya tersembunyi Batu logam,
Hasil pekerjaan Belerang. Kesana dipersayap dengan kecepatan
Sepasukan berjumlah besar bergerak cepat. Seperti ketika Kawanan Kawanan [ 675 ]
Perintis dengan bersenjatakan Cangkul dan Pacul
Mendahului Tentara Kerajaan, untuk menggali dataran,
Atau mendirikan Pertahanan. Mamon memimpin mereka,
Mamon, Roh yang berdiri paling bungkuk yang telah jatuh
Dari sorga, sebab bahkan di sorga sekalipun mata dan pikirannya [ 680 ]
Selalu menyerong ke bawah, yang lebih mengagumi
Kekayaan jalanan Sorga, Emas yang diinjak injak,
Daripada menikmati hal lainnya yang ilahi atau kudus
Dalam penglihatan penuh berkat: pertama oleh karenanya
Umat manusia juga, dan oleh sarannya diajar, [ 685 ]
Mengobrak abrik Pusat Bumi, dan dengan tangan tangan durhaka
Membongkar perut Bumi ibu mereka
Demi Harta yang tersembunyi lebih dalam. Segera anggota anggotanya telah
Membuka kedalam Bukit tersebut luka yang lebar
Dan menggali keluar rusuk rusuk Emas. Jangan ada yang mengagumi [ 690 ]
Kekayaan yang tumbuh di Neraka; tanah itu paling cocok
Mendapatkan beban berharga tersebut. Dan disini biar mereka
Yang menyombongkan diri dalam hal hal dunia, dan keajaiban menceritakan
Tentang Babel, dan pekerjaan pekerjaan Raja Raja Memphis
Mengetahui bagaimana Tugu Kemahsyuran mereka yang paling besar, [ 695 ]
Dan Kekuatan dan Keahlian dengan mudah dikalahkan
Oleh roh roh murtad, dan dalam satu jam
Apa yang dalam satu zaman mereka dengan kerja keras tidak habis habisnya
Dan tangan tangan tak terhitung jumlahnya hampir tidak dapat melakukannya.
Dekat di Dataran itu dalam banyak ruang ruang kecil disiapkan, [ 700 ]
Yang dibawahnya mengalir nadi nadi berisi api cair
Mengalir dari Lautan Api, sejumlah besar kedua
Dengan Keahlian ajaib menemukan Batu Logam berat,
Memisahkan tiap jenis, dan menyingkirkan kotoran dari Emas tersebut:
Yang ketiga segera juga telah membentuk dalam tanah [ 705 ]
Bermacam macam cetakan, dan dari ruang ruang kecil mendidih
Dengan cara pemindahan yang aneh mengisi setiap sudut kosong,
Seperti dalam sebuah Organ dari satu hembusan angin
Menuju barisan banyak Pipa dinafaskan oleh papan suara tersebut.
Segera keluar dari bumi suatu Bentuk besar [ 710 ]
Bangkit bagai suatu Hembusan, dengan suara
Banyak Pagelaran Gambus dan suara suara manis,
Dibangun bagai sebuah Kuil, dimana Tiang Tiang bulat
Dipasang, dan tiang tiang Doria ditimpa
Dengan Lengkungan Emas; tidak kekurangan juga [ 715 ]
Atap Lancip atau Sanggahan, yang diukir dengan Ukiran Ukiran timbul,
Atapnya dilapisi Emas. Tidak Babel,
Maupun Alkairo yang agung akan kemegahan sedemikian
Mampu menyamainya dalam seluruh kemuliaan mereka, untuk menyemayamkan
Belus atau Serapis ilah ilah mereka, atau menahtakan [ 720 ]
Raja Raja mereka, ketika Mesir dengan Asiria bertanding
Dalam kekayaan dan kemegahan. Tumpukan yang naik itu
Berdiri tetap dengan tingginya yang agung, dan segera pintu pintunya
Membuka lipatan lipatan mereka yang menonjol menunjukkan dengan lebar
Didalam, ruang ruangnya yang luas, diatas halus [ 725 ]
Dan rata lantainya: dari atap melengkung
Bagai Kalung dengan Sihir cerdik berbaris banyak
Lampu Lampu Berbintang dan Mangkuk Mangkuk Pembakaran yang dinyalakan
Dengan Nafta dan Aspal memancarkan terang
Bagaikan dari langit. Rombongan yang terburu buru itu [ 730 ]
Masuk dengan penuh kekaguman, dan beberapa memuji karya tersebut
Dan beberapa Pembuatnya: tangannya dikenal
Di Sorga dari banyak bangunan tinggi Bermenara,
Dimana Malaikat Malaikat Pemegang Tongkat Kekuasaan berdiam,
Dan duduk sebagai Para Penguasa, yang kepada mereka Sang Raja Tertinggi [ 735 ]
Ditinggikan ke kuasa sedemikian, dan diberi untuk memerintah,
Masing masing dalam Tingkatan sendiri sendiri, dan Kedudukan terang.
Bukan juga namanya tidak terdengar atau tidak dikagumi
Di Yunani kuno; dan di tanah Ausonia
Orang orang memanggilnya Mulciber; dan bagaimana ia jatuh [ 740 ]
Dari Sorga, menurut dongeng mereka, dilemparkan oleh Yupiter yang marah
Curam melalui Benteng Kristal: dari Pagi Hari
Hingga Siang Hari ia jatuh, dari Siang Hari hingga Sore Hari berembun,
Di suatu hari Musim Panas; dan bersama Matahari yang terbenam
Terjatuh dari Titik Tertinggi bagaikan sebuah Bintang yang jatuh, [ 745 ]
Di Lemnos Pulau Aegea: demikian diceritakan mereka,
Suatu kesalahan; sebab ia dengan kekacauan pemberontakan tersebut
Jatuh jauh sebelumnya; tidak juga ada yang bisa menolongnya saat itu
Karena telah membangun di Sorga Menara Menara tinggi; tidak juga ia lolos
Sebab seluruh Alatnya, namun dengan kepalanya terlebih dahulu dikirim [ 750 ]
Dengan anggota anggota pekerjanya untuk membangun di Neraka.
Sementara Utusan Utusan bersayap atas perintah
Kuasa Berdaulat, dengan Upacara yang penuh kekaguman
Dan Sangkakala berbunyi di seluruh Balatentara mengumumkan
Sebuah Sidang tinggi yang segera akan diadakan [ 755 ]
Di Pandemonium, Ibukota agung
Setan dan Rekan Rekannya: panggilan mereka memanggil
Dari tiap Kawanan dan Resimen lengkap
Atas tempat atau pilihan yang paling pantas; mereka segera
Beratus ratus dan beribu ribu datang bergerombol [ 760 ]
Menghadiri: seluruh jalan masuk dipenuhi, Gerbang Gerbang
Dan Serambi Serambi luas, namun terutama Balainya yang amat luas
(Walau bagai dataran tertutup, dimana Juara Juara pemberani
bergegas maju bersenjata, dan di tahta Sultan
Menantang pasukan berkuda Paynim yang terbaik [ 765 ]
Untuk bertempur sampai mati atau bertanding dengan Lembing)
Ramai dipenuhi, baik di tanah maupun di udara,
Tersapu oleh desis sayap sayap yang bergesekan. Bagai Kawanan Lebah
Di musim semi, ketika Matahari dengan Taurus bergerak,
Menumpahkan lebah lebah muda di sekeliling Sarang mereka [ 770 ]
Dalam kumpulan kumpulan; diantara embun dan bunga bunga segar
Terbang kesana kemari, atau di Papan Kayu yang dihaluskan,
Yang merupakan daerah pinggiran Benteng mereka yang dibangun dari Jerami,
Yang baru digosok dengan Lilin, berkumpul dan merundingkan
Masalah masalah Kenegaraan mereka. Begitu ramai kerumunan di udara [ 775 ]
Berkerumun sempit; hingga Tanda diberikan.
Lihatlah suatu keajaiban! Mereka yang hingga saat itu tampak
Besarnya melebihi Bani Raksasa di Bumi
Sekarang lebih kecil dari kurcaci paling kecil, di ruang sempit
Bergerombol tak terhitung, seperti Suku Pigmi Kerdil [ 780 ]
Di balik gunung India, atau Bangsa Peri,
Yang Pesta Pesta tengah malamnya, disisi sebuah Hutan
Atau Mata Air terlihat oleh Petani yang terlambat pulang,
Atau mimpi yang dilihatnya, sementara di atas kepalanya Bulan
Duduk sebagai Pengadil, dan lebih dekat ke Bumi [ 785 ]
Menjalani jalurnya yang pucat, mereka dengan riang dan dalam tarian
Penuh hasrat, dengan Lagu memukau mempesonakan telinganya;
Segera dengan sukacita dan ketakutan hatinya meloncat.
Demikian roh roh yang tak bertubuh hingga ke bentuk terkecil
Mengurangi bentuk mereka yang amat besar, dan langsung, [ 790 ]
Walau masih tidak terhitung di tengah tengah Balai
Sidang neraka itu. Namun jauh di dalam
Dan dalam ukuran semula sebagai diri mereka sendiri
Para Pembesar Serafim yang agung dan Kerubim
Dalam ruang tertutup dan pertemuan rahasia duduk [ 795 ]
Seribu Mahluk setengah ilahi diatas kursi kursi emas,
Hadir seluruhnya. Setelah kesunyian singkat lalu
Dan panggilan dibacakan, sidang agung tersebut dimulai.

Akhir Buku Pertama.